Kataku

  • Dia bukannya tidak tahu apa-apa ataupun buta, tapi dia berpura-pura dalam rupa yang istimewa namun membuatnya hina.
  • Manusia itu seperti kertas kosong yang akan dilukis oleh dirinya sendiri dengan pena kehidupan yang telah ia jalani, lalui dan hadapi
  • Pria sejati ialah pria yang mampu menghadapi cobaan dengan lapang dada, dan menjadikannya cobaan sebagai anugrah yang tertunda.
  • Aku pernah melihat orang itu mengaku buta ketika dia disuruh melihat batu hitam biasa, namun ketika dia diberi batu hitam yang lebih berharga dari sebelumnya dia mengatakan dia tidak buta.
  • Ketika seseorang berucap “Sungguh kasihan dirimu”, cobalah kamu tersenyum manis dengan menumbuhkan akar kesabaran menghadapinya.
  • Setiap kehidupan itu tidaklah mudah, jangankan di dunia yang pana ini dunia yang akan kita singgahi setelah kematianpun akan sulit dilalui jika kita tidak menyiapkan bekal dihari sebelum kita menghadapinya.
  • Kamu bukan tidak bisa, kamu hanya merasa lelah menghadapi itu semua makannya kamu kesulitan menghadapinya.
  • Semoga dalam diri kita masih tersimpan ruang kosong untuk rasa-rasa yang tak pernah kita inginkan menyapa kita.
  • Setiap kenyataan tidak bisa dirubah, namun kamu bisa merubah masa depan yang belum menjadi kenyataan dengan merencanakan dikenyataan.
  • Di dunia ini tidak ada perencanaan yang begitu matang, karena manusia hanyalah bisa merencanakan namun pada akhirnya Tuhan lah yang menakdirkannya.
  • Ketika kamu terjatuh bukan berarti kamu harus tertidur, tapi ketika kamu jatuh kamu harus bisa mencoba untuk bangun, bila gagal maka lakukan, bila gagal lakukan, bila gagal lakukan lagi, hingga kamu berdiri tegak.
  • Tak adakah yang istimewa dalam hatiku? Yang membuat suasana malamku menjadi malam bulan purnama indah. Yang tidak hanya gelap seperti mendung namun tak kunjung tiba pelangi setelah hujan.
  • Adakah seseorang itu yang bisa membuat suara? Agar aku tidak diam tanpa suara dan hanya menuliskan dalam sebuah kata saja.
  • Pintar bukan menjadi ukuran orang itu akan berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain, tetapi kemauan dan keinginan atas niat yang menjadikan seseorang itu akan berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain.
  • Revolusi bukan impian, melainkan revolusi itu adalah sebuah tujuan yang harus kita capai untuk perubahan yang lebih baik.
  • Semua jalan kita ditentukan oleh kita bukan oleh orang lain atau pun siapa.
  • Kamu masih bisa berdiri tanpa topangan pundak orang lain ataupun tongkat, yakin pada diri sendiri itu adalah penopang sekaligus tongkat yang kuat.
  • Bisakah aku lukiskan senyum manismu dalam pahitku?
  • Janjimu hanya tertulis dalam kertas terguyur hujan maka akan luntur terhapus olehnya.
  • Galau itu bukan aku, namun inspirasi dalam tulisanku, dalam diriku yang membuat aku mampu merangkai kata tanpa batas maupun titik dan koma.

KATAKU

Kataku…
Kucelupkan pena kanpas dalam tinta tak berwarna
Tak terlihat namun nampak
Tak terbaca namun terasa

Kataku…
Kulukiskan dalam sebuah kertas putih tak berupa
Tak nampak namun teraba
Tak nyata namun ada

Apa kataku…
Kata mulutku, Kata otaku, Kata hatiku, Kata tubuhku.

Siapa kataku…
Aku…
Aku…
Dan aku…

Seperti apa kataku…
Tak mampu kujawab
Seperti apa kataku…
Akupun tak dapat menggengam kataku

Kataku…
Sebuah tulisan tanpa suara
Tanpa ucap kata
Hanya diam tak nyata

Media Sosial Bertepuk Sebelah Tangan

Kita berjumpa dalam dunia nyata
Saling melihat dan bercengkrama
Membuat sebuah kisah nyata
Begitu berwarna nan indahnya

Tapi kemudian kau minta aku berlari
Mengejar dunia maya
Dengan penuh media
Yang aku tak mengerti penggunaannya

Katamu di fecebook
“Add Me”
Namun kamu sendiri tak mengkonfirmasiku

Katamu di Twitter
“Follow Me”
Namun kamu sendiri tak Follow Back Twitterku

Katamu di Blog
“Visit Me”
Namun kamu sendiri tak Visit Blogku

Setelah ku mengerti
Kenapa kamu tak konfirmasi
Kenapa kamu tak Follow Back
Kenapa kamu tak Visit Blogku

Aku putuskan tuk tinggalkannya
Tinggalkan dunia maya
Namun sebelumnya aku pertimbangkan
dengan sebaik-baiknya

Di facebook
Aku Remove kamu

Di Twitter
Aku Unfollow kamu

Di Blog
Aku Hapus Data Visit Link mu

Puisi Malam Minggu Jomblo

Aku tak ingin terbangun sendiri
Yang hanya disinari mentari
Aku ingin cahaya raut wajah manismu
Yang dapat menerangi jalan hidupku

Mampu memberikan rasa yang berbeda
Warna pelangi yang mengindahkan sudut pandang duniaku,
Yang hanya bisa aku dapat darimu

Datanglah padaku yang menantimu
Lewatilah setiap lorong gelap dalam jiwaku
Dan
Cabut duri sepi dalam laraku

Berikan cahaya itu
Terang membuka Mata Hatiku, Jiwaku, Rasaku.
Lukiskan kisah cintamu pada selembar hatiku

Gambaran akan dirimu
Yang tertunduk manis menatap senja
Menemani mimpi dalam Khayalku, Anganku, Harapku.

Duhay sang peri mimpi kesendirian
Datanglah pada nyataku
Peluk hatiku yang sunyi sepi
Tanpa penghuni ini dengan erat

Hadirmu layaknya sekumpulan mawar
Menghiasi taman indahku
Yang mungkin
Sesekali menusuk dinding hatiku

Seperti kupu-kupu
Yang menghiasi tanah tandus tak bertuan ini
Mengharap engkau berdiri dibelakangku
Mengiringi langkah kaki yang tertatih

Namun itu semua hanya harap dan angan
Semua tanpa sebuh nyata yang kurasa

Lalu kubiarkan hati ini sendiri
Tanpa “mu” Tanpa “nya” Tanpa “kita”
Menyadari semua ini
Bahwa aku masih terbangun sendiri

Tulisan ini dibuat dalam sebuat tweet saling balas antara Saya dengan FauzanmM1

DAN
Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Malem Minggu Para Jomlo
Kontes ini tidak ada dimana pun… Wkwkwkwk :mrgreen: 

Puisi Untuk Ayah (Senyum Ayah)

Puisi Untuk Ayah

Senyum Ayah

Muhamad Romdoni

Aku tahu bahwa dalam benakmu
Terdapat berbagai tumpukan jerami masalah
Bergumpal-gumpal keresahan
Takut Istri dan Anak-anakmu ini tak makan dan tak sekolah

Raut gelisah dan payahmu kau sembunyikan
Dalam senyum manismu
Tak pernah engkau menggerutu lelah dan letih
Hanya canda tawamu yang engaku tunjukan pada kami

Nyawamu engaku pertaruhkan dibawah alat berak itu
Begitu resah aku tang tahu akan hal itu
Begitu takut aku yang mengetahuinya
Namun kembali engkau buat senyum kecil meneduhkan hati

Senyum itu begitu sejuk seperti embun pagi menyapa rongga tubuhku
Senyum itu begitu menawan seperti pelangi dikala hujan reda
Senyum itu begitu mempesona seperti senja yang tenggelam
Senyum itu begitu indah seperti rembulan yang menghiasi malam

Dan…
Senyum itu adalah senyum ayah
Senyum yang engkau beri
Senyum yang aku terima

Ayah…

Begitu hebat engkau menyembunyikan keringatmu
Begitu gagah engkau menyembunyikan lelah letihmu
Selalu tegar menghadapi dunia
Selalu dapat membuat kami bahagia dengan sederhana

Senyummu membuat kami ceria
Lupa akan beban hidup yang engkau pikul
Yang engaku langkahi satu garis ke garis lainnya
Senyummu mentutupi semuanya

Ayah…

Aku anakmu yang tertua belum bisa membuatmu bangga
Aku anakmu yang perkasa sebagai pria belum mampu menggantikanmu
Tak ada janji dariku untuk ayah
Hanya ada satu do’a untuk ayah

Semoga ayah baik-baik saja

Berdiri Sendiri

Kuraih sebatang tongkat kecil
Tergeletak dalam hamparan tanah luas
Kuangkat kakiku perlahan
Mencoba berdiri tanpa bayangan menemani

Berjalan melangkahkan kaki kanan
Kemudian kaki kiri tak sempurna

Berpikir apa aku mampu melewati ini semua?
Merenung apa aku bisa menghadapinya?
Ucapku mampu
Ucapku bisa

Hatiku tidak
Pada siapa aku mengadu akan nyata?

Ingin aku keluarkan
Teriakan mematikan
Bagai racun yang membuat tubuh tak berdaya ini

Pada Tuhan Mengadu
Aku manusia
Sifat yang ingin didengar pasti ada

Bentuk nyata hanya kata dalam dunia maya
Hanya ada kemuniafkan didalamnya

Aku belajar berdiri sendiri
Perlahan
Meski akan lama
Tapi ini dunia
Lebih kejam dari yang aku kira

Kembali Menggonggong

Dia datang menghampiriku lagi
Menjerumuskan aku pada lubang kegelapan
Membutakan setiap pandangan
Dia menghancurkan semuanya lagi

Rasa itu menjerit tak tertandingi
Membuat aku takut
Jangankan menghampiri
Mendengarkannya pun aku enggan

Rasa itu muncul tiba-tiba
Bukan tanpa alasan
Karena aku tarik
Yang telah lama terpendam

Sekejap aku keluarkan
Kulantangkan meski sakit
Menyayat, Tercekit
Teriris, Cincang

Kenapa rasa itu datang kembali
Mengapa  harus terjadi
Kenyataan pahit yang harus aku telan berulang kali
Terasa ingin muntah lelah

Rasa sakit yang tak bisa kulupa
Bukanlah cinta
Rasa duka yang kusapa
Bukan lah ceria

Seperti yang aku bilang “Kembalikan!”
Keceriaan pada senyum tak manisku
Kecerahan pada muka jelekku
Kegembiraan pada hati munyilku

Kadang aku lelah dengan semua ini
Ingin melupa namun sulit dilupa
Ingin membenci namun sulit diberi
Ku harus apa?