Emak Diteror Wartawan


(Kisah keluhan anak ,yang emaknya dikejar-kejar “Wartawan”)

Emak memang tidak paham kode etik jurnalistik, namun dia tidak pernah ‘memusuhi’ wartawan, buktinya kalau ada orang yang datang ke sekolah, mengaku-ngaku wartawan, bergaya sopan, suguhan kopi, atau teh botol, pasti dia sajikan, karena Emak menganggap mereka itu tamu yang ingin tahu informasi tentang sekolah, dia tidak pernah bertanya dari tabloid atau harian, online atau radio, namun kali ini datang bergerombol, mengejar-ngejar ke sana kemari, sampai ke rumah, mendudukan Emak sebagai pesakitan, jelas melukai perasaannya, juga saya sebagai anaknya, entah mungkin yang lain.

Sore itu, sekitar pukul 17.30, kesibukan di rumah sudah mulai terasa, besok sepupu laki-laki yang sudah sepuluh tahun tinggal di rumah kami, akan melangsungkan pernikahan.

Empat orang yang semula saya anggap tamu pernikahan pulang, saya hanya sempat berpapasan di pintu gerbang rumah, saya hanya menatap sekilas, dua orang berumur sekitar 40 tahunan, dua lagi sekitar 30 tahunan, semuanya laki-laki, menggunakan dua sepeda motor, mereka datang dan pergi.

“Siapa,” kata saya, pada salah seorang kerabat yang sedang duduk di bangku depan rumah, sambil mempersiapkan perhiasan yang akan dipasang pada mobil pengantin.

“Wajah sih kenal, katanya wartawan,” tambahnya.

Wartawan, menjelang magrib, ketika hujan rintik-rintik datang ke rumah, berempat. Perasaan saya sudah tidak enak, saya cepat ke dalam rumah. Mereka datang lagi.

“Tadi ada lagi wartawan, datang,” kata Emak saya. Emak, seseorang yang telah melahirkan dan membesarkan saya, atau dalam bahasa Indonesianya sering dipanggil ibu. Berumur sekitar 54 tahun.

“Minta uang lagi,” kata saya.

“Bapak yang menghadapi,” katanya.

“Oh,”

Sambil berbincang, Emak, terus melanjutkan pekerjaannya di dapur, sambil sesekali bertegur sapa dengan ibu-ibu yang membantu memasak, untuk dibawa pada acara pernikahan, yang akan dilaksanakan di tempat mempelai perempuan, besok pagi.

***

Beberapa hari ini, Emak seperti ‘dikejar-kejar’ wartawan, siang malam, sebagai anak saya merasa kasihan padanya, pangkal persoalannya adalah Beasiswa Siswa Miskin atau biasa disebut BSM.

Menurut Emak, Uang yang besarnya sekitar Rp 12 jutaan, sebagian dibagikan pada anak yang terdaftar menerima, sebagian lagi dibelikan untuk batik, batiknya sudah dibagikan pada semua siswa. Serta sebagian untuk sampul raport. Semua kebagian.

Semua mendapat batik, untuk kebersamaan, karena kebanyakan anak di sekolah adalah anak buruh tani, tukang ojek, janda, dan pengangguran karena sulitnya mendapat pekerjaan, dan hampir semua layak mendapatkan BSM.

Membagikan batik pada semua, awalnya bermaksud baik, supaya tidak ada kecemburuan. Maklum, namanya di kampung kalau tidak begitu, antar tetangga bisa ribut, gara-gara tidak mendapatkan BSM, sementara yang lain mendapatkan, padahal sama-sama mengaku miskin.

“Keputusan itu, sudah hasil rapat komite, perwakilan orangtua, dan guru,” kata Emak sambil memperlihatkan berkas daftar hadir rapat.

Tidak semua komite memang hadir, berbagai alasan muncul, ada yang sibuk bekerja menyelesaikan bangunan, ada juga yang sakit, namun hasil pertemuan disampaikan juga pada yang absen.

Pada mulanya, tidak semua wartawan dihindari Emak, satu dua kali dilayani, namun akhir-akhir ini, mereka datang bergerombol, dan mendudukan Emak, layaknya pesakitan.

“Ketika kita menjelaskan, mereka langsung menyalahkan, dan berbicara terus, akan dilaporkan ke kejari, tipikor, kami sudah kerjasama dengan Polres, Kejari, Kejati, malah ada wartawan yang datang minta dibelikan bensin dan menyuruh guru untuk membelikan bensinnya,” kata Emak, menceritakan, keluh kesahnya. Pada akhirnya, Emak pun memilih menghindar.

***

Selepas Isya, kabarnya ketika saya menjemput istri pulang kerja, datang Encep, salah seorang komite sekolah ke rumah. Menceritakan, selepas magrib empat orang laki-laki yang mengaku-ngaku wartawan itu, datang ke rumah Encep. Rumah Encep dengan kami, jaraknya sekitar satu kiloan.

“Setelah dari rumah, dia ke rumah Kang Encep,” kata ibu saya.

Ibu lalu menceritakan bahwa Encep telah menceritakan apa yang diketahuinya tentang penggunaan dana BSM. Sampai pada pembelian Batik, Encep, telah menjelaskan semuanya.

Batik yang dibeli Emak, harganya Rp 30.000 untuk kelas 4-6, dan Rp 27.500 untuk kelas 1-3, jumlah semua 230-an, memesannya di Tangerang, alasannya, Emak ingin kualitasnya lebih baik. “Memang, ada lebih dari pemesan batik sekitar Rp 300.000, tapi itu habis untuk biaya ongkos.”

Encep, juga menceritakan, bahwa wartawan itu, akan datang lagi Lusa, atau pada hari Kamis ke sekolah, salah seorang dari mereka mengaku wartawan Kompas Indonesia, menunda satu eksplempar Koran Kompas Indonesia, dan menuliskan namanya T U (inisial), berikut nomor handphonenya.

Kompas Indonesia yang saya tahu media mingguan, terbit di Jakarta, namun jelas media itu bukan Kompas Gramedia miliknya Jakob Oetama. Bukan, sekali lagi bukan.

Saya teringat di Kota P, beberapa bulan belakangan, seseorang yang mengaku dari Kompas Indonesia, sebut saja H.T saya sering bertemu dengannya, sejumlah wartawan harian yang bertugas di Kota P juga tahu dengannya, Rabu pukul 21.00, saya datangi, dan menanyakan apakah TU, adalah wartawan Kompas Indonesia. Dia bilang, bukan.

Setelah berbincang kesana kemari, akhirnya dia mengatakan, wartawan Kompas Indonesia di P, selain dia adalah Beni. Memang TU itu suka bersama Beni terus, dan banyak diminta komentarnya, oleh Beni sebagai LSM G…

Dia keluarkan sebuah fotocopian, berita yang ditulis oleh Beni, saya baca inisialnya Ben, berita tentang pemotongan gaji fungsional di salah satu Mts swasta di Kabupaten P.

Tulisan yang Ben buat, saya tidak bernafsu untuk membacanya lebih lanjut, titik koma, kalimat dan kata banyak salah. “Beginilah kang, kualitas wartawan kampung, harus terus ditingkatkan,” kata dia, ketika saya iseng nyeletuk, “tulisannya harus banyak yang dibetulkan.”

Sekitar pukul 21.00, HT saya minta menelepon Ben, dia bersedia. HT tidak langsung ke pokok bahasan pembicaraan, dia menanyakan dulu berita tentang madrasah tersebut. Kira-kira begini;

“Sudah ada efek value-nya belum bos, berita madrasah tersebut,” kata HT.

“Belum bos,” katanya.

“Masa sih,” kata HT.

“Benar sumpah, saya juga menunggu terus, saya sekarang tulis lagi. Saya sekarang mengetik di kecamatan, di rumah saya komputernya rusak,”

Setelah itu, HT mulai menggiring.

“Coba kang, kalau minta komentar itu jangan TU terus,” kata HT.

“Oh, TU itu kami jadikan paser kang, dia yang masuk, nanti kami terima bersihnya saja,” katanya.

…………………………………..

“Bagaimana pantauan tentang BSM,” kata HT.

“BSM di sekolah, sudah seusai aturan, sebagian dibagikan, memang ada yang dibelikan batik, namun rata-rata sudah sesuai kesepakatan komite,” katanya.

“Tidak ada pelanggaran, ya,” kata HT.

“Tidak, kita juga susah masuk,” katanya.

“Termasuk kecamatan P, B, M,” kata HT

“Ya, tapi kalau tidak dikorek-korek susah kang, tapi kita kan bisa kang,” katanya sambil terdengar tawa di ujung telepon HT

“Kecamatan P, yang kepala sekolahnya, ibu-ibu itu,” kata HT.

“Ya, sudah seusai kesepakatan komite, namun kita menganggap bahwa uang batik Rp 35.000 itu kemahalan kang,”

“Namanya, siapa,” kata HT

“Ibu Cuncun,” katanya.

“Oh, kemahalannya dimana,” kata HT

“Kita sudah konfirmasi ke beberapa tukang jahit, harganya itu Rp 25.000, dengan spek seperti itu,” katanya.

“Oh,” kata HT

“Tapi, sudahlah, kalau ibu itu jangan diganggu, dia masih saudara saya,” kata HT.

“Oh, gitu kang,” katanya.

“Ya, sudahlah, atau kalau nulis nanti kirim ke sana dulu kang, ya supaya koordinasinya enak,” kata HT.Maksudnya bukan sana, saya ke HT, jadi yang betul, ya, sudahlah, atau kalau nulis nanti kirim, ke saya dulu kang, ua, supaya koordinasinya enak,” kata HT

“Tapi, kang, kalau bisa, tolong dijembatani, kita sudah mengeluarkan biaya untuk investigasi, jadi tolonglah, sampaikan,” katanya.

“Sampaikan bagaimana,” kata HT.

“Ya, kita mintalah sekitar satu… anggap saja uang damai,” katanya.

“Ya, coba nanti saya bicarakan,” kata HT.

“Tapi cepat-cepatlah, supaya kami tidak merembet kemana-mana,” katanya.

“Cepatlah, ibu cuncun itu masih untung cuma diminta satu…, yang lain kita minta sampai lima… kang,” katanya.

***

Cuncun, jelas Beni salah menyebut, itu bukan nama ibu saya, namun Cuncun yang dimaksud mengarah pada ibu, walaupun nama Ibu berawal kata hurup U. Sementara harga Rp 35.000, menurut penulusuran mereka, namun yang jelas menurut ibu saya Rp 30.000, karena Rp 5000 untuk beli sampul raport. Satu adalah sebutan untuk satu juta. Sejumlah sekolah, di Kecamatan P memang, banyak yang menjadi korban mereka yang mengaku wartawan.

Menghadapi wartawan seperti itu, di keluarga saya memang terbelah, Bapak yang kini pensiunan itu sepertinya tidak mau mengambil banyak masalah, dia hanya menyarankan menghindar saja, namun saya yang pernah menjadi wartawan; sedih, marah, dan ingin melaporkannya sebagai bentuk pemerasan. Kakak, saya yang juga guru, sependapat dengan saya, Emak, sepertinya juga menyetujui keinginan saya.

“Kasihan wartawan yang benar-benar wartawan ya,” kata Emak, yang sudah mulai sedikit terbuka tentang profesi wartawan.

Emak memang tidak paham kode etik jurnalistik, namun dia tidak pernah ‘memusuhi’ wartawan, buktinya kalau ada orang yang datang ke sekolah, mengaku-ngaku wartawan, bergaya sopan, suguhan kopi, atau teh botol, pasti dia sajikan, karena Emak menganggap mereka itu tamu yang ingin tahu informasi tentang sekolah, dia tidak pernah bertanya dari tabloid atau harian, online atau radio, namun kali ini datang bergerombol, mengejar-ngejar ke sana kemari, sampai ke rumah, mendudukan Emak sebagai pesakitan, jelas melukai perasaannya, juga saya sebagai anaknya, entah mungkin yang lain.

Tinjau :

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s