Bab II “KELIHATANNYA” (4)


KELIHATANNYA

tidak hanya aku yang tersiksa dengan

keadaan tidak sehat ini. Raihana mungkin merasakan hal

yang sama. Tapi ia adalah perempuan Jawa sejati yang

selalu berusaha menahan segala badai dengan kesabaran.

Perempuan Jawa yang selalu mengalah dengan keadaan.

Yang salalu menormorsatukan suami dan menomorduakan

dirinya sediri. Karena ia seorang yang berpendidikan,

maka dengan nada diberani-beranikan, ia mencoba

bertanya ini-itu tentang perubahan sikapku. Ia mencari-

cari kejelasan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

Tetapi selalu saja menjawab, ”tidak ada apa-apa kok mbak,

mungkin aku belum dewasa! Aku mungkin masih harus

belajar berumah tangga, mbak!”

Ada kekagetan yang kutangkap dalam wajah

Raihana saat kupangil “mbak” ? . panggilan akrab untuk

orang lain, tapi bukan untuk seorang istri.

“kenapa mas memanggilku”mbak”? aku  kan istri

mas. Apakah mas tidak mencintaiku?” tanyanya dengan

gurat sedih tampak diwajahnya,.

“Wallahu a’lam!”

jawabku sekenanya.

Dan dengan mata berkaca-kaca. Raihana diam,

menunduk tak lama kemudian ia menangis terisak-isak

sambil memeluk kedua kakiku.

“kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku

sebagai istri  kenapa mas ucapkan akad nikah itu? kalau

***

 

dalam tingkahku melayani mas nikah ada yang tidak

berkenan kenapa mas tidak bilang dan menegurnya.

Kenapa mas diam saja? Aku harus bersikap bagaimana

untuk membahagiakan mas? Aku sangat mencintaimu mas.

Aku siap mengorbankan nyawa untuk kebahagian mas?

Jelas buat rumah ini penuh bunga-bunga indah yang

bermerahan? Apa yang harus aku lakukan agar mas

tersenyum? katakanlah mas! Katakanlah! Asal jangan satu

hal. Kuminta asal jangan satu hal: yaitu menceraikan aku!

Itu adalah neraka bagiku. Lebih baik aku mati daripada

mas menceraikanku. Dalam hidup ini aku ingin berumah

tangga Cuma sekali. Mas kumohon bukalah hatimu untuk

menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan

ibadahku didunia ini.”

Raihan mengiba penuh pasrah. Namun, oh sungguh

celaka! Aku tak merasakan apa-apa. Aku tak bisa iba sama

sekali padanya. Kata-katanya terasa bagaikan ocehan

penjual jamu yang tidak kusuka. Aku heran pada diriku

sendiri, aku ini manusia ataukah patung batu? Kalau pun

aku menitikkan air mata itu bukan karena Raihana tapi

karena menangis ke-patung- batu- an diriku.

Hari terus berjalan dan komunikasi kami tidak

berjalan. Kami hidup seperti orang asing yang tidak saling

kenal. Raihana tidak menganggapku asing dia masih setia

menyiapkan segala untukku. Tapi aku merasa dia seperti

orang asing. Aku benar-benar meminta kepada tuhan agar

otak, perasaan, dihati dan jiwa diganti saja dengan yang

bisa mencintai Raihana.

***

 

Suatu sore aku pulang dari mengajar dan kehujanan

dijalan. Aku lupa tidak membawa jas hujan. Sampai

dirumah habis magrib. Bibirku biru, mukaku pucat.

Perutku belum kumasukkan apa-apa kecuali segelas kopi

buatan Raihana tadi pagi, memang aku berangkat terlalu

pagi karena ada janji dengan seorang teman. Jadi aku

berangkat sebelum sarapan yang dibuat Raihana jadi.

Raihana memandang diriku dengan waajah kuatir.

“mas tidak apa-apa kan?” tanyanya cemas sambil

melepaskan jaketku yang basah kuyup.”mas mandi pakai

air hangat saja ya. Aku sedang menggodog air. Lima menit

lagi mendidih.” Lanjutnya.

Aku melepaskan semua pakaian yang basah dan

memakai sarung. Diluar  hujan sedang lebat-lebatnya. Aku

merasa perutku mulas sekali. Dan kepala agak pening. Aku

yakin masuk angin.

“mas air hangatnya sudah siap?” kata Raihana.

Aku tak bicara sepatah kata pun. Aku langsung

masuk kekamar mandi dan membersihkan badan dari ujung

rambut sampai ujung kaki. Aku lupa tidak membawa

handuk. Selesai mandi, raihana telah berdiri didepan pintu

kamar mandi dan memberikan handuk. Dikamar ia juga

telah menyiapkan pakaianku.

“Mas aku buatkan wedang jahe panas. Biar segar.”

Aku diam saja.

“Tadi pagi mas belum sarapan. Apa mas sudah

makan tadi siang?”

***

 

Bersambung……..

(4)
Tunggu Kelanjutan Ceritanya….

* Habiburahman  El  Shirazy : Pudarnya Pesona Cleopatra (Bab II “Kelihatannya”).

NB :
Setelah selesai membaca, saya harap anda bisa meninggalkan se-utas kata di kolom komentar  … :; )

6 thoughts on “Bab II “KELIHATANNYA” (4)

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s