Bab III “SELANJUTNYA” (7)


TIGA

SELANJUTNYA

 

aku merasa sulit hidup bersama

Raihana. Aku sendiri tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa

tidak suka itu semakin menjadi-jadi. Aku tak mampu lagi

meredamnya. Aku dan Raihana hidup dalam dunia masing-

masing. Aktivitas kami hanya sesekali bertemu dimeja

makan dan saat sesekali shalat malam. Aku sudah

memasuki bulan keenam menjadi suaminya. Dan satu bulan

lebih aku tidak tidur sekamar lagi dengannya. Aku lebih

merasa nyaman tidur bersama buku-buku dan computerku

di ruang kerja.

Tangis raihana tak juga mampu membuka jendela

hatiku. Rayuan dan ratapanya yang mengharu-biru tak

juga meluruhkan perasaanku. Aku meratapi dukaku.

Raihana menangisi dukanya. Dan duka kami belum juga

bertemu. Aku heran pada diriku sendiri. Orang-orang itu

begitu mudah jatuh cinta. Tapi kenapa aku tidak. Raihana

yang kata tante lia memiliki kecantikan selevel  bintang

iklan sabun Lux itu belum juga bisa menyentuh hatiku.

Kelembutannya yang seperti Dewi Sembodro tak juga

membuatku jatuh cinta. Kepada siapa aku harus

melabuhkan duka. Seribu doa terpanjatkan agar hatiku

terbuka. Namun yang hadir tetap saja aura pesona gadis

lembah sungai Nil. Padahal banyak juga yang bilang, gadis

Mesir banyak yang gembrot.

***

 

 

Habiburahman  El  Shirazy

Tapi cinta adalah selera. Dan selera orang berbeda-

beda. Dan aku selalu menolak jika orang mengatakan gadis

Mesir banyak yang gembrot. Aku justru melihat jika ada

delapan gadis Mesir maka yang cantik ada enam belas.

Karena banyangannya juga cantik. Aku mungkin terlalu

memuja keelokan gadis Mesir. Itulah selera. Selera

adalah rasa suka yang muncul begitu saja dalam jiwa dan

terkadang susah dipahami. Seenak-enaknya durian kalau

ada orang tidak suka ya tetap tidak suka. Setidak sukanya

orang, kalau ada orang yang makan jengkol ya tetap suka.

Secantik-cantiknya Lady Diana kalau orang tidak suka ya

tidak suka. Itu juga yang kualami. Aku belum bisa

menyukai  Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta.

Hanya entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis

titisan Cleopatra.

Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol.

Suasana yang sebenarya tidak boleh terjadi pada orang

mengerti seperti diriku. Tapi masalah cinta seringkali

membuat orang mengerti jadi tidak mengerti. Untuk

menghibur diri suatu hari sepulang dari mengajar. Kulihat

kaset sinetron berseri Ibnu Hazm yang kubawa dari

Mesir. Sebenarnya pulang ketanah air kusempatkan

membelinya di Attaba.

Dengan melihat sinetron itu kehadiran kembali

pesona kecantikan gadis-gadis titisan Cleopatra yang

jelita dalam film untuk menyeka kesedihankul. Keagungan

Wafa Shadiq, aktris muda Mesir saat memerankan Samar,

wanita shalehan yang dicintai Imam Ibnu Hazm,sungguh

***

 

 

mempesona. Dalam jilbab sutera merah klasik model

Andalusia abad kejayaan islam, auranya begitu

menyejukkan hati. Adegan pertemuan Samar dengan Ibnu

Hazm yang tidak disengaja disebuah taman diCordoba

benar-benar romantis dan menyihir segenap perasaan.

Aku sebenarnya memang orang yang suka hal-hal

romantis. Pada saat Samar yang masih berstatus budak

itu kembali jatuh ketangan Ibnu Hazm yang pernah jadi

tuannya aku tiada sanggup menahan tetes air mata

keharuan. Bagiamana tidak terharu , Ibnu Hazm putera

seorang menteri itu telah jatuh hati dejak kecil pada

samara, gadis kecil budak ayahnya. Saat ayah Ibnu Hazm

jatuh miskin terpaksa samara dijual. Sang ayah tidak tahu

yang ikatan cinta putranya dengan budak belianya.

Setelah keduanya dewasa. Ibnu Hazm jadi pemuda

berilmu yang ternama. Samara jadi budak seorang

penguasa. Keduanya bertemu tak sengaja. Gelora cinta

yang membara tak bisa berbuat apa-apa. Namun kerena

sebuah karyanya yang agung Ibnu Hazm berhasil

mendapatkan kembali samara. Penguasa itu kagum pada

karya Ibnu Hazm dan bersumpah akan memberi hadiah

apa saja yang diminta Ibnu Hazm. Dan Ibnu Hazm

meminta samar. Dengan sebuah karya ulama agung itu

mendapatkan pujaan hatinya. Ah, andai aku jadi Ibnu

Hazm yang hidup bertenaga dengan cinta. Yang gelora

cinta mampu mendorongnya melahirkan karya-karya

monumental. Menjadikan namanya terukir indah sepanjang

sejarah. Andai saja raihana mirip Wafa Shadiq atau Mona

***

 

Bersambung……..


(7)
Tunggu Kelanjutan Ceritanya….

* Habiburahman  El  Shirazy : Pudarnya Pesona Cleopatra (Bab II “Kelihatannya”).

Baca juga :

6 thoughts on “Bab III “SELANJUTNYA” (7)

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s