“Selanjutnya” (9)


mengobankan apa saja untuk membuatku bisa tersenyum.

Ia tidak pernah mengeluh apa-apa, tak pernah

mengungkapkan tidak suka, tapi diriku? Yang celaka

adalah diriku, aku tidak bisa mengimbangi apa yang

dirasakan oleh Raihana. Aku belum juga bisa mencintainya.

“Ah Yu Iman ini menggoda terus, sudah satu tahun

kok dibilang baru.” Sahut Rihana.

“Ya masih baru

tho

nduk

. Namanya, pengantin baru

satu tahun! Hi….hi….hi….” celetuk ibu mertua membanyol.

“Aku juga baru

lho

. Pengantin baru sepuluh tahun!

He …… he……he…. “ tukas Yu Imah disambut

gerr

sanak

kerabat.

Sambutan sanak saudara pada kami benar-bebar

hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang

sedemikian kuat menjaga kewibawananku di mata

keluarga. Pada ibuku dan pada semuanya ia tidak pernah

bercerita apa-apa  kecuali menyanjung kebaikan sebagai

suami, orang yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga

dan bahagia menjadi isteriku. Aku jadi pusing  sendiri

memikirikan sikapku. Lebih pusing lagi saat ibuku dan ibu

mertuaku menyindir tentang keturunan. “ sudah satu

tahun putra sulungku berkeluarga, kok belum ada tanda-

tanda aku mau menimang cucu. Doakan lah kami. Bukankan

begitu,mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku. Aku

tergagap, cepat-cepat keanggukkan kepalaku sekenanya.

***

 

 

Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap lebih

bersahabat pada Raihana. Aku berpura-pura kembali

mesra padanya. Berpura-pura menjadi suami betulan. Ya,

jujur dasar cinta dan kedendakku sendiri aku

melakukannya. Dasarnya adalah aku tak ingin

mengecewakan ibuku, itu saja. Biarlah aku kecewa, biarlah

aku menderita, terbelenggu persaan konyol, asal ibuku

tersenyum bahagia. Aku berharap jadi anak yang baik,

jadi orang baik namun aku tidak tahu, apakah aku bisa jadi

suami Raihana yang baik?

Allah Mahakuasa. Kepura-puraanku memuliakan

Raihana sebagai isteri ternyata membuahkan hasil.

Raihana hamil. Ia semakin manis. Sanak saudara semua

bergembira. Ibuku bersuka cita. Ibu mertuaku bahagia.

Namun hatiku…..oh, hatiku menangis meratapi cintaku

yang tak jua kunjung tiba. Hatiku hamba. Tersiksa.

Merana. Tuhan kasihanilah hamba. Hadirkan cinta itu

segera. Aku takut bahwa aku nanti juga tidak bisa

mencintai bayi yang dilahirkan Raihana. Bayi yang tak lain

adalah darah dagingku sendiri. Adakah didunia ini petaka

yang lebih besar dari orang tua yang tidak bisa mencintai

dan menyayangi anak kandungnya sendiri? Aku sangat

takut itu terjadi padaku.

Sejak itu aku semakin sedih. Aku semakin sedih

sehingga kau lalai untuk memperhatikan Raihana dan

kandunganya. Aku hanyut mertapi nestapa diriku. Setiap

saat nuraniku bertanya,” Mana tanggung jawabmu!” aku

***

 

 

hanya diam dan mendesah sedih. “Entahlah, betapa sulit

menemukan cinta,”gumanku pada nuraniku sendiri.

Dan akhirnya datanglah hari itu. saat usia

kehamilan memasuki bulan keenam. Raihana minta ijin

untuk tinggal bersama kedua orangtuanya dengan alasan

kesana. Rumah mertuanya sangat jauh dari kampus tempat

aku mengajar.jadi ibu mertua tidak banyak curiga ketika

aku harus tetap hinggal dirumah kontrakan yang lebih

dekat dengan kampus. Ketika aku pamitan Raihana

berpesan, “Mas, untuk menambah biaya persiapan

kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku!

ATM-nya ada di bawah kasur. Nomor pinnya adalah

tanggal dan bulan pernikahan kita!”

***

 

Bersambung……..


(9)
Tunggu Kelanjutan Ceritanya….
“Bab IV “SETELAH” 

* Habiburahman  El  Shirazy : Pudarnya Pesona Cleopatra (Bab III “Selanjutnya”).

 

Baca juga :

10 thoughts on ““Selanjutnya” (9)

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s