Bab IV “SETELAH” (10)


EMPAT

SETELAH Raihana tinggal di tempat ibunya, aku merasa

sedikit lega. Aku tidak lagi bertemu setiap saat dengan

orang yang ketika melihat dia aku merasa tidak nyaman.

Entah apa sebabnya bisa demikian. Aku bisa bebas

melakukan apa saja. Hanya saja aku merasa sedikit repot.

Harus menyiapkan makan dan minum sendiri. Juga mencuci

baju sendiri. Jika pulang setelah maghrib tak ada yang

menyiapkan air hangat untuk mandi. Tapi itu tidak jadi

masalah bagiku. Toh selama di Mesir aku sudah terbiasa

makan, minum, dan mencuci sendiri. Aku membeli mie

instant

satu kardus dan semuanya beres. Jika tidak

masak. Bisa beli di warung makan tak jauh dari rumah.

Waktu terus berjalan dan aku merasa enjoy tanpa

Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Dan sampai

dirumah hari sudah petang. Aku merasa tubuhku benar-

benar lemas. Aku muntah-muntah. Aku menggigil

kedingingan. Kepala pusing dan perut mual. Saat itu

terlintas di hati, andaikan ada Raihana. Dia pasti telah

menyiapkan air hangat bubur kacang hijau hangat.

Membantu mengobati masuk angin dengan

mengeroki

punggungku. Lalu menyuruhku istirahat dan menutup

tubuhku dengan selimut malam itu aku benar-benar sakit

dan tersiksan sendirian. Tak ada makanan dan minuman.

Tapi semua rasa  sakit kutahan-tahan. Aku membuat mie

rebus dan wedang jahe. Minum jamu. Mengoleskan minyak

***

 

 

kayu putih keperut. Punggung,leher, kening telapak kaki

dan telapak tangan. Lalu tidur. Aku terbangun jam enam

pagi. Badan telah segar.tapi ada penyesalan mendalam

dalam hati: aku belum shalat Isya dan terlambat shalat

subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana dia pasti

sudah membangunkanku sehingga aku tidak lalai shalat

Isya dan terlambat shalat subuh meskipun sakit.

Dan lintasan kehadiran Raihana itu hilang setelah

aku berangkat mengajar. Dalam rutinitas harian yang

mulai padat, Raihana sudah terlupakan sama sekali.

Sampai akhirnya suatu hari dikampus ada barita yang

cukup mengagetkan sesama dosen. Ketika aku makan siang

bersama pak Hardi da pak Susilo terjadilah perbincangan

itu.

“Kasihan benar pak Agung ya ?” kata pak Hardi.

“Siapa pak Agung itu?” tanyaku.

“Dia adalah dosen muda yang paling cemerlang

keriernya dikampus ini, dalam usia yang sangat muda dia

sudah manjabat kepala jurusan. Dia menyelesaikan

masternya di Australia. Dan karena kecerdasan dan

kepiawaannya dia berhasil menyunting puteri promotornya

yang cantik jelita. Secantik Nicole Kiidman. Namanya

Judit Bartom. Kau belum pernah ya melihatnya. Jika

isterinya itu datang ke kampus para mahasiswa pasti

geger. Sebab memang cantik. Satu tahun yang lalu dia

dapat beasiawa melanjutkan doktornya ke Amerika. Dia

dan isterinya berangkat kesana. Akan mereka yang

berusia tiga tahun juga dibawa serta. Tiba-tiba kami

***

 

 

mendapatkan berita yang menyedihkan. Pak agung

terpaksa harus mencerikan isterinya yang cantik itu.

karena ia melihat Judit selingkuh dengan bule Amerika.

Judit lebih memilih hidup dengan kekasihnya yang

Amerika itu. kau tahu sendiri kan bagaimana hubungana ini

pak Agung pulang ke Malang guna menenangkan pikiranya.

Dia sangat terpukul atas apa yang terjadi pada dirinya.

Bahkan pengadilan Amerika memenangkan Judit sebagai

hak wali anaknya. Yang menyedihkan. Kata pak soedarmaji

yang masih keluarga dekat pak Agung, sekarang ini pak

Agung juga sedang menjalani terapi psikologis di rumah

sakit jiwa. Katanya kekagetan dan deperesi yang

dialaminya cukup berat.”pak susilo menjelaskan

“Sungguh kasihan pak Agung.dulu dia adalah bintang

dikampus ini. Jika saja dia memilih Zaenab daripada Judit

tentu sekarang dia akan semakin cemerlang. Dan keilmuan

banyak dimanfaatkan banyak orang.”sambung pak Hardi.

“Siapa itu Zaenab ?” tanyaku.

“Dia adalah puteri pak Kiai Ahmad Munaji, pengasuh

sebuah pesantren

tahfidh

alquran di batu sana. Menurut

cerita pak Soerdarmaji. Zaenab memang tidak secantik

bintang film taoi untuk ukuran didesanya bisa dikatakan

kembang desa. Zaenab hafal alquran dan kuliah di

Universitas Airlangga. Ketika Agung akan berangkat ke

Australia. Pak kiai Ahmad meminta Agung untuk menikahi

puterinya. Kebetulan kiai Ahmad kenal baik dengan pak

Soedamarji. Keduanya sama pernah jadi anggota DPRD.

Tapi Agung memolak. Bahkan selama di Australia berulang

***

 

kali Agung diberi tahu bahwa Zaenab siap menunggu. Tapi

Agung lebih memilih judit dengan alasan lebih berpikiran

maju dan secantik sudah mengingatkan agar tidak

terpedayaan oleh pesona sementara. Kecantikan lahir bisa

hilang. Tapi kecantikan batin akan kekal. Pak Soemardaji

juga mengingatkan bahwa perempuan bule tidak cocok

untuk pemuda Indonesia. Juga sebaliknya, latar belakang

budaya dangat jauh berbeda. Dari kasus yang ada bahwa

pernikahan bule-Indonesia lebih banyak gagalnya. Tapi

Agung nekad. Semua saran dan nasihat tidak ia indahkan.

Ia mengawini Judit. Keluarganya hanya bisa mendoakan

agar perkawinan itu langgeng seperti langgengnya

perkawinan di Jawa pada umumnya. Tapi yang terjadi

tidak sesuai yang diharapkan. Apa yang dikuatirkan

kerabat Agung menjadi kenyataan. Judit bertemu dengan

komunitasnya. Dia berselingkuh. Bahkan menurut Iwan,

teman satu kampus Agung di Australia. Saat Agung

menikahi Judit, sebenarnya Judit sudah tidak lagi perawan.

Sangat sulit menemukan gdis perawan di atas umur tujuh

belas tahun disana.  Kalau dia memilih Zaenab ceritanya

akan lain. Sekarang Zaenab mendapatkan beasiswa S2 ke

Perancis. Dan ia menikah dengan sorang mahasiswa lulusan

Pakistan. Sejak kecil zaenab tidak pernah tersingkap

auratnya. Ayahnya, Pak Kiai Ahmad sangat ketat menjaga

akhalak dan moral anak-anaknya, Agung sungguh keliru.

Ada daging yang bersih segar dan belum tersentuh apa-

apa didepan mata, dia malah memilih daging yang

terbunkus ingat tapi sejatinya telah busuk. Dia lebih

***

 

Bersambung……..


(10)
Tunggu Kelanjutan Ceritanya….

* Habiburahman  El  Shirazy : “Pudarnya Pesona Cleopatra”.

 

Baca juga :

4 thoughts on “Bab IV “SETELAH” (10)

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s