“Setelah” (12)


Namanya Yasmin. Dia kuliah di Fakultas Pendidikan

Universitas Ain Syams. Saya belum pernah melihat gadis

secantik dia. Dia tidak pakai jilbab.  Dengan pandangan

pertama saya langsung jatuh cinta padanya. Dalam hati

saya bersumpah tidak akan menikah kecuali dengan dia

atau gadis secantik dia. Rasa cinta sering kali membuat

seseorang melakukan apa saja untuk menemui orang yang

dicintainya. Demikian juga yang terjadi pada saya. Minimal

satu minggu satu kali saya harus melihat wajahnya. Setiap

ada kesempata sekecil apapun selalu saya gunakan dengan

sebaik-baiknya agar bisa melihat wajahnya. Termasuk

saat membayar uang sewa rumah. Biasanya tuan rumah

yang datang mengambil. Tapi denga basa-basi saya

membalik keadaan sayalah yang datang ke rumah tuan

rumah. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah

tangan. Anak tuan rumah yang kecantikannya khas

Cleoptra itu juga mencintai saya. Teman-teman satu

rumah juga sering kali mengingatkan agar saya tidak

melanjutkan hubungan percintaan dengan anak tuan rumah

itu. menurut mereka, hanya hal yang kurang baik yang

akan saya dapatkan. Baik ketika saya berhasil

menyuntingnya atau pun tidak.

Kisah percintaan saya dengan anak tuan rumah

didengar oleh Fadhil, kakak kelas. Dia menasehati sekali

tentang hubungan pria-wanita yang sebetulnya saya sudah

tahu. Fadhil membuat garis tegas: akhiri hubungan dengan

anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan degan

menikahinya! Saya memilih yang kedua. sebab

***

 

 

kecatikannya membuat saya tergila-gila. Sebuah

kecantikan yang menurut saya tidak bisa ditemui pada

seluruh gadis yang ada di Medan bahkan diseluruh

Indonesia.

Ketika saya memutuskan untuk menikahi Yasmin,

bahkan banyak teman-teman yang memberi  masukkan.

Ada yang memberi masukkan begini, sama- sama menikahi

dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswa Al-

Azhar yang hafal alquran, salehah dan berjilbab. Itu lebih

selamat daripada Yasmin yang sangat awam pengetahuan

agama. Seandainya pun berbeda tapi kesalehan bisa

mengatasi segalanya. Ada yang mati-matian melarangku.”

Jangan menikah dengan gadis Mesir. Tuan pertama akan

merasakan enaknya. Tapi setelah itu kau akan pahit

selamanya. Tidak mudah menyatukan dua manusia yang

berbeda watak dan budanyan!” kata dia. Saya tegap pada

pendirian saya yaitu menikahi Yasmin apa pun resikonya.

Disamping karena kecantikanya yang menyihir siapa saja

yang melihatnya saya juga merasa sangat prestise jika

berhasil menyuntingnya.

Akhirnya, dengan biaya yang sangat tinggi saya

berhasil memperistri Yasmin. Saat itu saya sudah tingkat

tiga. Satu tahun setengah saya hidup satu rumah bersama

Yasmin. Hidup yang sangat indah. Anak pertama kami

lahir. Disambut denga suka cita oleh keluarga besar

Yasmin. Namun, untuk hidup indah bersama gadis Mesir

yang cantik itu tidaklah gratis. Saya harus mengeluarkan

biaya yang sangat mahal. Yasmin menuntut diberi suatu

***

 

 

yang lebih dari gadis Mesir yang menikah dengan orang

Mesir pada umumnya. Dia minta dibelikan mobil. Perabot

rumah yang agak mewah. Musim panas pergi keAlexandria

menginap dihotel yang berbintang dan lain sebagainya.

Karena perasaan cinta yang mengelora, semua bisa saya

penuhi. Meskipun untuk itu ayah saya harus menjual

sawahya berkali-kali.

Begitu selesai S1 saya mengajak Yasmin hidup di

Indonesia. Dia mau. Saya minta asset yang miliknya di

Mesir dijual untuk memulai hidup di Indonesia. Dia mau.

Saya merasa senang. Bahwa Yasmin tidak segila yang saya

bayangkan. Saya tidak pernah membayangkan bahwa itu

salah satu kecanggihan Yasmin, kami pun mulai hidup di

Medan. Kami pun membeli rumah yang cukup mewah

dikawasan elit Medan. Sebab Yasmin tidak bisa tinggal di

rumah orangtua saya dipinggir kota yang sepi dan terlihat

sederhana. Dia ingin rumah seperti di Mesir. Ada

showernya

. pakai gas elpiji. Ada telepon, ada lemari es.

Pokoknya yang sama seperti di Mesir. Tahun-tahun

pertama hidup di Medan kami lalui dengan baik tanpa ada

gejolak. Tapi tahun Yasmin mengajak pulang ke Mesir

menjenguk orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua

yang diinginkan Yasmin dan orang tuanya. Gaji saya

sebagai dosen hanya cukup untuk makan saja. Hidup terus

berjalan. Anak kami yang kedua dan ketiga lahir.  Biaya

hidup semakin bertambah. Saya minta kepada Yasmin

untuk lebih berhemat. Tidak  setiap tahun ke Mesir tapi

tiga tahun sekali. Yasmin tidak bisa. Saya mati-matian

***

Bersambung……..

 

NB:

Jika anda tidak sabar membaca kelanjutan ceritanya, Ajak teman-teman anda Like Artikel ini.
Bila sudah 20 Like (Icon facebook) maka saya akan Post Halaman berikutnya….!!!
Jangan lupa juga tinggalkan Komentarnya…. OK….!!! 

(12)
Tunggu Kelanjutan Ceritanya….

* Habiburahman  El  Shirazy : “Pudarnya Pesona Cleopatra”.

 

 

Baca juga :

2 thoughts on ““Setelah” (12)

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s