Bab V “PULANG (14)


LIMA

PULANG

dari palatiahan aku sempatkan untuk mampir

ketoko busana muslim. Aku membelikan beberapa stel

busana muslimah untuk Raihana. Juga daster. Serta

pakaian bayi. Ketika malihat toko emas aku tertarik

membelikan gelang untuknya. Aku ingin membelikan hadiah

kejutan untuknya. Aku ingin dia tersenyum bahagia

melihat kedatanganku.

Aku tidak langsung kerumah ibu mertua, tempat

dimana Raihana sekarang berada. Tapi terlebiha dahulu ke

rumah kontrakkan untuk memenuhi pesan Raihana,

mencairkan uang tabungannya. Sampai dirumah, aku

langsung membuka kasur tempat dia tidur selama ini. Aku

tersentak kaget. Dibawah kasur itu, kutemukan puluhan

kertas merah jambu. Hatiku berdesir,darahku terkesiap.

Surat cinta siapa itu ? rasanya aku tidak pernah membuat

surat cinta untuk isteriku. Gila! Jangan-jangan ini surat

cinta isteriku dengan lelaki lain. Jangan-jangan isteriku

serong.awas kau…!!

Dengan diliputi rasa curiga dan

penasaran. Aku takut ia berbuat yang tidak aku inginkan.

Segera kuambil tumpukan surat itu. kubaca dan kuamati

betul-betul. Aku terpana sesaat. “

benar, ini tulisan

tangan Raihana sendiri. Lolu untuk siapa Raihan menulis

surat-surat cinta ini!!

Gumamku dalam hati dengan penuh

keheranan.

***

Kubaca satu persatu surat itu.

Dan……..

ya Rabbi…..

ternyata surat-surat ini adalah

ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia

menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, mati-matian

meredam rindu akan belainku. Ia menguatkan diri menaha

nestapa dan derita yangluar biasa karena atas sikapku.

Hanya Allah-lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya,

dan…….. ya Allah, ia setia memanjatkan doa rabithah, doa

ikatan cinta dengan tulus dan ikhlas untuk kebaikan

suaminya. Dan betapa ia mendambakan hadirnya cinta

sejati yang murni suci dariku.

Ya Rabbi.

Tanpa sepengetahuanku, selama dua bulan

sebelum aku mengantarnya kerumah ibu mertua ia bahkan

sering puasa sunnah demi meredam hasrat biologisnya

yang tak pernah kupahami. Ia kuatkan berpuasa demi

mensucikan dirinya dari jerat kehinaan. Nyaris ia putus

asa menanti cairnya cintaku. Beruntung ia memiliki cahaya

Al quran didalam hatinya.

Rabbi  dengan penuh kesyukuran, hamba

bersimpah di hadapan-Mu. Lakal Hamdu Ya Rabb. Telah

engkau mulia akan hamba dengan alquran. Kau kuatkan diri

hamba dengan cahaya alquran. Kalaulah bukan karena

karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah

terperosok dalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curanhkan

tambahan kesabaran pada diri hamba…..”

tulis Raihana.

Ia lawan badai derita yang menerpannya dengan

doa dan lantunan ayat suci alquran. Sungguh perempuan

yang mulia dia. Hatinya begitu putih. Jiwanya bersih.

***

Habiburahman  El  Shirazy

Sedangkan aku? Oh, betapa zhalimnya, aku selama ini. Ya

Rabbi,ampunanilah hamba-Mu yang zhalimi ini. Ampunilah

ya Rabb!.

Di akhir lembaran suratnya Raihana berdoa,

“Ya  Allah  inilan hamba-Mu yang kerdil penuh noda

dan dosa kembali datang mengetuk pintu-Mu. Melabuhkan

derita jiwa ini kehadiran-Mu. Ya Allah tujuh bulan sudah

hamba-Mu yang lemah ini hamil penuh derita dan

kepayahan. Namun kenapa tega suami hamba, ia tak

mempedulikan hamba dan menelantarkan hamba. Masih

kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa

kesetiaan hamba padanya. Masih kurang apa baktiku

padanya? Ya allah, jika memang masih ada yang kurang

ilhamkanlah pada hamba-Mu yang dhaif ini cara berahklak

yang lebih mulia lagi pada suaminya.

Ya allah, dengan rahmat Mu hamba memohon

jangan engkau murkai dia karena kelalaiannya. Cukup

hamba saja yang menderita. Biarlah hamba saja yang

menanggung nestapa. Jangan engkau murkai dia, dia

adalah ayah  dari janin yang hamba kandung ini. Jangan

engkau murkai dia, dengan cinta hamba telah memaafkan

segala khilafanya, hamba tetap menyayanginya, ya allah

berilah hamba kekuatan untuk setia berbakti dan

memuliakanya. Ya allah,Engkau Maha tau bahwa hamba

sangat mencintainya karena-Mu. Ya sampaikanlah rasa

cinta hamba ini kepadanya dengan cara-Mu yang paling

bijaksanna. Tegurlah dia dengan teguran rahmat-Mu. Ya

allah, dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang

***

layak disembah kecuali Engkau. Mahasuci Engkau ya

allah,sungguh hamba mengakui hamba termasuk golongan

orang-orang yang zhalim. Amin”

Tak terasa air mataku mengalir,dadaku sesak oleh

rasa haru yang luar biasa. Tangisanku meledak. Dalam isak

tangisku semua kuabaikan Raihan selama ini terbayang.

Wajahnya yang teduh dan

baby face,

pengorbanan dan

pengabdianya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut.

Tangisannya saat bersimpuh dan memeluk kedua kakiku,

semua terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Ya

cinta itu datang dalam keharuanku. Dalam kaharuanku

terasa ada hawa sejuk turun  dari langit dan merasuk

dalam jiwaku, seketika itu, pesona kecantikan Cleopatra

memudar; berganti cahaya cinta Raihana yang terbang di

hati. Hatiku terasa basah. Rasa sayang cintaku pada

Raihana tiba-tiba terasa begitu kuat mengakar di seluruh

syaraf dan nadi. Dan sukmaku diliputi  rasa rindu luar

biasa. Cahaya Raihana terus berkali-kali dimata. Aku tiba-

tiba begitu merindukannya untuk segera menumpakan

tangis cinta dipangkuannya. Ya allah sungguh bijaksana

Engkau mengatur kahidupan.

Subhanaka ya rabbi

!

Segera kukejar waktu untuk membagi cintaku pada

Raihana. Membagi rinduku yang tiba-tiba memenuhi

rongga dada. Air mataku berderai-derai. Kukebut

kendaraan ku. Kupacu kencang diiringi derai air mata yang

tiada berhenti menetes di jalanan. Aku tak peduli. Aku

ingin segera sampai dan meluapkan cinta ini padanya.

Padanya yang berhati mulia. Bergitu sampai di halaman

***

rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan

mangambil nafas panjang dan mengusap air mata. Melihat

kedatanganku ibu mertua serta merta memelukku dan

menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis.

“Mana Raihana Bu?”

Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku

terus bertannya apa sebenarnya yang terjadi.

“Isterimu, Raihana isterimu dan anakmu yang

dikandungannya!”

“Ada apa dengan dia?”

“Dia telah tiada.”

“Ibu berkata apa?”

“isterimu telah meninggal dunia. Satu minggu yang

lalu. Dia terjatuh dikamar mandi. Kami membawanya

kerumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum

meninggal dia berpesan untuk memintakan maaf kepadamu

atas segala kekurangan dan khilafannya selama

menyertaimu. Dia minta maaf karena tidak bisa

membuatmu bahagia. Dia minta maaf telah tidak sengaja

membuatmu menderita. Dia minta kau meridhainya.”

Hatiku bergetar hebat.

“Ke….kenapa ibu tidak memberi kabar kepadaku?”

“ketika Raihana di bawa ke rumah sakit, aku sudah

mengutus seorang menjemputmu kerumah kontrakkan tapi

kau tiada ada. Dihubungi kekampus kau ternyata sedang

pelatihan di Jawa Barat. Kami tak ingin mengganggumu.

Apalagi Raihana juga berpesan agar jangan sampai kami

mengganggu ketenganmu salama pelatihan. Dan ketika

***

Raihana meninggal kami sangat sedih, kami camkan

kesedihan tiada terkira. Jadi maafkanlah kami.”

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku sangat pilu.

Jiwaku remuk. Ketika aku sedang merasakan cinta yang

membara pada Raihana, ia telah tiada. Ketika aku ingin

menebus semua dosa yang keperbuat padanya, ia telah

meninggalkan aku. Ketika cintaku padanya sedang

membuncah-buncah. Rinduku padanya menggelegak-

gelegak. Dan aku ingin memuliakannya sepanjang hayatku.

Aku hanya terlambat. Dia telah tiada. Dia telah

meninggalkan aku untuk selamanya tanpa memberikan

kesempatan padaku untuk sekedar meminta maaf dan

tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan

penyesalan dan rasa bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku kesebuah gundukan tanah

masih baru di kuburkan yang letaknya dipinggir desa.

Diatas gundukkan itu ada dua batu nisan. Nama dan hari

wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa

cinta, haru, rindu, dan penyesalan yang luar biasa. Aku

menangis tersedu-sedu, ,memanggil-mangil nama Raihana

seperti orang gila. Sukmaku menjerit-jerit, mengiba-iba.

Aku ingin Raihana hidup kembali. Hatiku perih tiada

terkira.

Dunia tiba-tiba gelap semua……………

……………TAMAT………….

 

Habiburahman  El  Shirazy

Telah selesai ditulis

Di Cairo, januari 2002.

Direvisi kembali

Di Semarang, oktober 2003.

Untuk mereka yang menganggap

Kecantikan adalah segalanya!

 

Terimakasih Admin Ucapkan atas kesediaannya membaca Buku ini.
Jika anda ada permintaan post buku lain silahkan komentar.
Jangan Lupa Like ya…. ; )

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Post : “Pudarnya Pesona Cleopatra”
Oleh : Habiburahman  El  Shirazy
By Post : Desaku
Link Public : https://muhamadromdoni.wordpress.com

 

Baca juga :

8 thoughts on “Bab V “PULANG (14)

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s