Hati Juga Bisa Salah


Dalam hidup ini kita punya dua pilihan yaitu bangkit atau terpuruk. Tentunya tiada orang yang memilih untuk pilihan yang kedua, dan tidak mudah untuk pilihan yang pertama, sebab tentunya hati bisa salah. Hal ini pula yang terjadi pada diriku, karena salah menentukan pilihan, diriku terjatuh dan sekarang aku baru menyadari bahwa untuk pilihan yang pertama bukan tidak mungkin bisa diwujudkan. So, tidak ada kata terlamabat.

Inilah kisahku…..

Kenalkan namaku Tiara, mungkin dulu orang tuaku berharap akulah yang bakal menjadi mutiara yang selalu bersinar dalam kehidupanku. Dan tentunya mereka sangat menaruh harapan kepadaku sebagai anak semata wayang. Memiliki keluarga yang kaya akan materi membuatku tak sulit untuk mendapatkan sesuatu, bahkan untuk seorang pacar.

“Tiara, uduh rapi gitu mau kemana?” Tanya Mamiku yang sedang mengikuti siaran berita di Televisi. Beliau seorang wanita karir, wajar jika jam segini tidak berada di dapur.

“ada tugas kelompok dirumahnya Nina, Mi.” Jawabku, dan menghampirinya.

“o…ya udah, hati-hati.”

“Ya, Tiara pamit….” Kataku seraya mencium tangan mamiku sebagai anak yang baik.

Hm…berbicara sama mami tidak perlu basa-basi. Sebab beliau sangat mempercayai anaknya ini. Aku tidak perlu diintrogasi kayak ibunya Nina yang baru berdandan sedikit saja sudah ditanya macam-macam. Jika aku punya orang tua seperti itu mungkin aku bakal minggat dengan segera.

Kini taxi ku menuju sebuah café yang tentunya bukan tempat yang baik untuk belajar kelompok. Ya,…aku baru saja membohongi mamiku sebab jika beliau mengetahui alasan sebenarnya, aku bisa memastikan tidak akan diijinkan, apalagi kalau aku memberitahu orang yang bakal aku temui, ku bisa pastikan aku bakal dikurung di kamar, dan bakal lebih buruk nasibku dari pada Nina.

“halo sayang, nunggunya lama ya?” sapaku dan seperti biasa aku menyium pipi kiri dan kanan pria berkulit sawo matang di depanku.

“lumayan, waktu yang pantas untuk menunggu seorang permaisuri.” Pujinya. Inilah yang kusuka darinya, selama bersamanya aku selalu mendengar rayuan gombalnya.

kami sudah pacaran 6 bulan, tapi sayangnya hubungan kami backstreet. Sebab orang tuaku punya dendam kusumat pada keluarga Aries, pacarku. Ditambah lagi Aries hanya seorang pengangguran, yang menurut versi papiku dia hanya anak gembel. Papiku memimpikan seseorang yang berkelas untuk menjadi pendamping hidupku. But,…cinta memang sulit ditebak, dan karena rasa itu pula yang membuatku tidak memikirkan tembok berlin yang dibuat oleh orang tuaku.

Setelah makan aku yang membayarnya. Sebab kekasihku tidak berpenghasilan, apalagi harus membayar makanan di café berkelas seperti ini. Tapi itu bukan masalah bagiku, asalkan dia bermodal cInta, apapun kan kuberikan padanya.

“sayang aku bête di rumah. Lagi punya masalah sama bapak, gimana kalau kita ke hotel.”

“hotel?!!” mataku langsung terbuka lebar “ngapain say?”

“ya’ ampun, hal seperti itu perlu ditanyakan juga? Tentunya menghilangkan kejenuhan ini.” Katanya dengan wajah memelas.

“tapi tadi aku ijin sama mami hanya untuk belajar kelompok, hotel dari sinikan jauh. Aku bisa kemalaman pulang nanti.”

“sayang, kamu kan bisa bilang sama mamimu kalau tugas kelompoknya ribet gitu, dan kamu harus nginap untuk menyelesaikannya.”

“tapi,…”

“ayolah sayang.” Bujuknya sambil memohon.

Ya,..dari pada melihat kejenuhan di wajah kekasihku lebih baik aku memilih untuk merangkai kebohongan baru lagi untuk mamiku tercinta. Dan aku tidak menemui kesulitan saat berbicara dengan mami ditelpon seperti alasan sebelumnya, mamiku tidak neko-neko. Tanpa pikir panjang, kami menuju tempat tujuan kami.

Saat tiba di kamar aku merasa agak takut juga. Tapi berkat kata-kata Aries yang lembut di telingaku, membuatku menjadi tenang, dan merasa sangat nyaman didekatnya. Hidup terasa indah dan kata orang saat-saat ini dunia hanya milik berdua.

******

                Dua minggu kemudian….

“uek…uek…uuuuuek…” hari ini aku merasa tidak enak badan, bawaannya mual terus. Udah tidak kehitung deh sudah berapa kali masuk kamar mandi.

“Tiara, kamu kenapa?” Tanya Mami khawatir, di luar kamar. Kubersihkan mulutku dan keluar menemui Mamiku. “kamu kenapa Tiara? Dari tadi Mami dengar kamu muntah-muntah terus.” Tanyanya lagi saat aku kini sudah di depan matanya.

“entahlah Mi, mungkin salah makan.” Kataku jujur sebab aku tidak tahu alasannya.

“Tuh, sudah mama bilang jangan suka makan makanan yang di pinggir jalan, itu tidak bersih. “ kata mami membuatku mengingat satu hal kalau kemarin sore Nina ngajak aku makan mie di pinggil jalan.

“uek.” Tubuhku mual lagi

Penyelesaiannya karena mami kasian padaku, mami membawaku ke rumah sakit untuk nyeledikin virus apa saja yang sudah berani nongkronng dalam tubuhku. Dan,…aku baru menyedari kalau mengajak mami ke rumah sakit itu salah, apalagi membiarkannya menjengar hasilnya. “anal ibu positif HAMIL.” Itu kata dokter yang membuatku bagai petir yang menyambar. Sedangkan untuk mami, aku tidak berani menebak.

Saat perjalanan pulang Mami tidak berkata apa-apa, begitu pula aku. Hingga kerusuhan mulai terjadi saat papi pulang dari kantor. “siapa yang melakukannya.” Tanya papi tegas saat mendengar kabar itu, aku bahakan tidak mampu menatap wajahnya, dan lebih tidak mampu lagi untuk menjawabnya. “jawab” bentak papi

“Aries.” Jawabku singkat, tapi sangat jelas untuk papi.

“apa Aries?!! Aries anaknya Roby?” Tanya papi, aku hanya mengangguk “Kau Gila?!!! Kamu tahu masalah kita dengan merekakan??? Apa yang anak gelandangan itu tawarkan kepadamu, hingga kau buta.” Papi benar-benar emosi, bahkan dia sempat meraba dadanya, aku berharap sakit jantungnya tidak kumat.

“Pi kami saling mencintai dan Tiara pikir salah jika cinta kita terhalang hanya karena keegoisan keluarga.”

“cinta??? Ya, cinta buta Tiara. Kamu kira kamu hanya bisa hidup dengan modal cinta?” Papi tersenyum, tapi senyuman yang dilatarbelakangi amarah yang besar “Gugurkan bayi itu?”

“Tidak, aku tidak akan melakukannya. Ini buah cinta kita.”

“kamu belum sadar juga, mereka itu orang yang tidak bertanggung jawab. Dan sebelum orang-orang mengetahuinya dan menajdi aib keluarga ini, hilangkan dia dari dunia ini.”

“tidak, lebih baik aku mati dari pada membunuhnya.” Tangisku

“kamu ingin mati buat menambah aib keluarga ini? Belum cukup permalukan kami? Perlu kamu tahu Tiara, sampai kapanpun papi tidak akan mengemis pada mereka. Jika kamu tidak mau menggugurkannya lebih baik kamu pergi dan jangan pernah anggap kami orang tuamu.” Papi berjalan masuk, disusul mami.

Inilah keputusan terakhir mereka, hubungan kami memang tidak pernah dapat direstui. Hingga pagi harinya aku memutuskan untuk keluar dari rumah, ketimbang menggugurkan buah cintaku ini. Aku hanya meminitipkan selembar surat untuk mami dan papi tercinta.

Dear Papi dan Mami,

Sulit bagi Tiara untuk memilih orang tua Tiara atau anak ini. Dengan berat hati, Tiara memutuskan untuk pergi. Terimakasih atas semua yang telah kalian berikan. Maafkan Tiara tidak bisa menjadi cahaya dalam keluarga ini.

From, Ananda Tiara

Langkah pertamaku menuju tempat nongkrongku dengan Aries, sebab aku belum berani kerumahnya. Aku belum siap ketemu dengan keluarganya. Namun, sekian lama aku tunggu Aries belum muncul juga. Aku akhirnya memutuskan untuk ke rumahnya. Dan,…saat sampai di sana kulihat keadaan rumahnya sepi, kuputuskan menanyakan ke tetangganya. Dan satu kenyataan yang harus aku terima kalau Aries dan keluarganya telah pindah keluar kota sejak 3 hari yang lalu. Dia tidak menghubungiku dan mengabarkan hal ini!!!!

Inikah yang namanya cinta? Sekarang siapa yang salah? Betapa malunya diriku pada orang tuaku. Aku bisa saja meminta maaf, tapi terasa berat jika aku harus kembali dan menggugurkan anak ini, dia tidak berdosa!!!.

Langkahku kini menelusuri jalan tanpa tujuan. Kehidupan luar ternyata tidak semudah yang kubayangkan, sulit mencari pekerjaan, sulit untuk hidupku. Selama berbulan-bulan terbuang di dunia jalanan, penuh hinaan dan caci maki. Hingga aku diterima jadi baby sitter di sebuah rumah.

Saat itulah aku mulai bangkit dari keterpurukan. Aku dapat kembali kuliah, inipun karena kebaikan Ny. Alice, majikanku. Tidak aku sia-siakan kesempatan itu, hinngga aku mampu meraih gelar sarjana. KIni aku bekerja sebagai seorang sekretaris, di sebuah kantor. Hidupku cukup mapan.

“mi, ini kuburan siapa?” Tanya pria tampan di sampingku, membuyarkan semua lamunanku.

“ini kuburan nenekmu, Putra.” Jelasku, dia anakku. Yang kubesarkan seorang diri, tanpa kenal sosok sang papa.

Kemarin aku baru saja bertemu dengan papi, orang yang selama ini aku rindukan. Saat bertemu dengannya, ku dapati wajah menyesal saat menatap cucunya ini. Aku juga baru tahu kalau aku salah satu penyebab mami bisa di sini, sebab sejak aku pergi mami sakit-sakitan dan merindukan aku hingga ajalnya tiba. Dan, papi tentunya tidak akan mampu hidup sendirian sehingga ia menikahi seorang wanita yang mampu memberinya dua anak.

“Mi, tiara pamit. Tiara janji bakal jengnuk Mami lagi.” Kataku berdiri dan merangkul anakku, kelak suatu hari nanti aku berharap Putra tidak sama seperti papinya. Sudah cukup hal itu harus terjadi padaku,….jangan pada yang lain.

******

JudulHATI JUGA BISA SALAH

Penulis : Irawati

Ternate, 2  Juni 2009

Pernah terbit di: Koran Malut Post,  Ternate 6 Juni 2009

8 thoughts on “Hati Juga Bisa Salah

  1. gan jangan pake link terlalu banyak jadi komenyarnya kena spam.

    balas komen ane di blog saya😀

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s