Kisah Hidupku #2


“Pertanyaan-pertanyaan yang semakin lama semakin mengumpal menjadi gunung yang tinggi yang takan terpecahkan oleh kaki”…..
Maka pecahkanlah dengan fikir dan keimanan… Komentar: Bunda Niken.

Pertanyaan-paertanyaan sebuah penyesalah yang bodoh memang karena waktu tak bisa di putar waktu akan terus berjalan.

 

 

Singkat cerita ***

Sekian lama doni yang rapuh di ranjang tipis yang membuat terbakar seluruh badanya itu akan hawa panas karena ia tak pernah bisa berjalan.

Kini kaki itu sudah bisa dia tapakan meski tak sempurna seperti anak normal lainnya dan harus memakai alat bantu (Tongkat), yang dibuat oleh ayahnya sendiri.

 

“Don, pake ini aja dulu yah… nanti kalau bapak punya duit baru kita beli yang lebih kuat buat nopang kakinya”

“iya pak, gak apa-apa ko ini juga udah bias, yang penting doni bias jalan” Jawab doni kepada sang ayah yang sedikit menetes kan air mata ketika melihat doni belajar berdiri dengan tongkat seadanya, doni pun tau bagaimana kondisi keluarganya. Dan dia tak terlalu berharap untuk mendapatkan tongkat yang dijanjikan sang ayah.

 

“ayo don,,, pelan-pelan aja dulu… awas hati-hati” Motivasi dan keresahan sang ayah karena masih ngeri melihat doni berdiri.

“ayoo doonn pelan-pelan aja” ibu pun memberikan semangat sampai meneteskan air mata.  Senang, sedih melihat anak yang dulu ia lahirkan sekarang berjalanpun harus ditopang dengan tongkat.

 

“ayo k_ sini Femi bantu”

“Mia pegang tongkatnya yah k_”

Femi adik laki-laki dan Mia adik perempuan doni pun memberikan semangat yang begitu mengharukan doni sendiri hingga tak dia sadari matanya mengeluarkan tetesan air mata duka.

 

 

“Gedddebuuuukklkkkk ……”

“aawww……”

Suara itu seakan menjadi perhatian sekeliling doni. Doni terjatuh begitu saja dari bahu tongkat kayu.

“Astagfirullah…. Gak apa-apa kan don…?” Tanya ayah sembari senyum, padahal doni tau ayahnya pun menangis melihat itu, namun dia tak mau menunjukannya, ayah hawatir doni tak mempunyai semangat lagi.

Lain halnya dengan sekeliling doni, Ibu, Nenek, Femi & Mia. Diam tanpa kata, tak bisa berkata sepatahpun, hanya mata mereka yang berbicara tetesan airmata yang menandakan duka, terpukul begitu sakit melihat doni rapuh.

 

“Kita coba lagi ya don..!!” Semangat sang ayah masih terasa.

“iya pak..!” doni pun masih tersenyum meski dalam hati takkuasa menahan tangis.

Kemudin dia berdiri kemabali dan tanpa disadari lagi matanya berlinan airmata.

“Asiiikkkk…… tuh kan k_ bisa….” Teriak dua adik doni melihat doni bisa berdiri seketika.

“Coba jalan” ayah masih semangat rupanya.

“Nah kan bisa….” Senyum sang ayah melihat doni bisa berjalan. Tapi, ibu dan nenek masih diam tak berkata (maklumlah Perempuan lebih perasa).

 

 

Seminggu kemudian***

Semakin lancar lah doni berjalan.

“Mulai sekolah lagi ya pa..” pinta doni

“ya udah kalau kamu maunya gitu, tapi apa kuat” sang ayah meng-iya-kan dengan keresahan takut terjadi apa-napa nantinya.

 

Dan hari Senin tiba, doni pun berangkat ke sekolah tapi tak berjalan kaki karena jarak yang lumayan cukup jauh untuk ditempuh. Manusia tongkat (begitulah aku menyebut diriku sendiri ketika itu). Tiap hari dia kesekolah dengan Ojek yang  masih tetangga doni sendiri.

Di sekolah pun doni tak banyak bergerak, doni selalu membawa bekal dalam kotak nasi yang ibu buat sejak pagi untuk bekal di sekolah, layaknya  seorang anak TK yang sebenarnya sudah SMP kelas VII, doni tidak malu dengan itu, doni biasa saja, malah doni sendiri sering menawarkan teman-temannya untuk makan bersama ketika bel istirahat terdengar.

Begitulah selama (-+) 6 bulan kehidupan doni di sekolah.

 

 

Lepas Tongkat***

Akhirnya doni pun bisa melepas tongkat dan berjalan tanpa tongkat.

Yah sudah layaknya seperti anak-anak lain meski jalannya pincang dan terasa sakit jika kejauhan berjalan.

Kelas VIII “Perubahan Sikap, Prinsip, Tingkahlaku, Gaya, Hidup, Logika, Bahasa” Perubahan Drastis ketika doni beranjak naik ke Kelas VII.  Entah setan apa yang merasukinya.

***

[Nanti Lanjut Curhatnya……!!!]

 

 

NB:

Ketika saya berjalan memakai tongkat, kaki saya terkilir dan tak di urut karena saat itu ada luka.

Dan akibatnya di akhir cerita ya….!!!

90 thoughts on “Kisah Hidupku #2

  1. Jangan Anggap ini sebuat tulisan, ini hanyalah sebuah curhatan yang saya lontarkan mengisi kekosaongan. 

    Saya kira ini belum bisa di sebut sebuah cerita ataupun apa karena ini kisah hidup saya yang memang nyata. Selamat membaca ocehan saya. 

    Saya Harap Keritik dan saran dari Anda terkait coretan ini, karena saya sangat ingin membuat sebuah “Kisah Hidup” yang memang layak untuk dibaca. 

  2. Doni, anggap aja tulisan2 KIsah Hidupmu ini sebagai draft untuk cerpen atau novel hehe. tulis saja dulu semua apa adanya.. blog kamu inih nanti bisa kamu edit2 kembali, bahasanya, penulisannya juga dan fokus ceritanya.. karena itu yang paling kelihatan pas baca ceritamu di KH 1 dan KH 2 ini.. contoh kecil kata ‘Bisa’ kamu selalu nulisnya jadi ‘bias’ perlu di edit agar pembaca bisa menikmati dengan enak..

    okeh lanjutkan KH 3 ya🙂

    • iya kah mba… ❓ saya gak sadar loh mba..😀 mungkin karena saya ngetiknya belum lancar kali hehe..🙂
      saya perbaiki deh..😉
      makasih mba sarannya saya sangt bersyukur bisa di komen sama mbanya.. 🙂 jangn kapok & bosen buat ajari sya yah mba..😉😉😉

  3. ђαϑϱúђ (¬˛¬) nanggung amat ceritanye bro bikin penasaran nih :p

    Koreksi dikit sob, Eh itu ada beberapa kata yg salah tuh, bisa=bias doni ko jadi soni mending klo yg baca ngarti xixi,,
    #sory klo Jay salah

    Cemungud kk😀

  4. syukurlah klo udah bisa normal kembali,, ,

    kalo takdir memang begitu, terimalah kenyataan..

    karena takdir tidak bisa di rubah, tapi kalo nasib masih bisa di rubah.. .

    semangat gan..

    • apa yuh typo gan..❓ kata yah..❗

      iya gak apa” malahan kalau bisa agan komennya lebih pedes lagi biar saya bisa mikir dan koreksi lebih lagi,
      makasih gan udah mau koreksi kalau ada yang slah atau gimana jangan sungkan buat koreksin yah gan…. saya siap tampung ko..😉

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, Doni…

    Wah… bersemangat sekali ya atas sokongan semua keluarga. Sungguh beruntung punya orang tua yang perihati, adik beradik yang menyokong dan teman-teman yang selalu menyemangati. Mudahan kebaikan akan selalu ada walau kadang kala penyesalan atas apa yang telah berlaku itu akan wujud di hati walau sedetik cuma.

    Ayuhh… bangkit Doni, hidup ini hanya untuk mereka yang bersemangat juang dan optimis dengan kejayaan walau dirinya kini ada kekurangan. tetapi kekurangan itu bukan penyebab kepada kegagalan hidup malah seharusnya dijadikan teladan buat lebih beraksi jaya lagi.😀

    Lanjutanya dimaklumi ya, saya menunggu akhir ceritanya.
    Salam ceria Doni.😀

  6. mantap… dtunggu lnjutn crita’a kang. ane kira prtama’a cerpen tau’a kisah nyata y. tp klo dibuat cerpen tau novel bs bagus nih kang. krn kn dah da jlan crita’a, jd tinggl ngmbangin j.😀

  7. Wah… jadi teringat kisahku juga. Hehe…
    Butuh keberanian yang cukup besar untuk melepas tongkat itu🙂

    Dan memang, kata ‘bisa’ yang terketik menjadi ‘bias’ itu rada mengganggu😀
    Semangat ya…

  8. tetap semangat, Saudaraku.
    Saya tunggu kelanjutan ceritanya, dan seperti yang Kakaakin sebutkan bahwa ada kesalahan ketik ( bias, semestinya bisa ), ada baiknya segera dikoreksi.

  9. saya berkunjuuung😀
    lebih suka yg KH1 kaak. penulisannya lebih rapi KH1.__.v *jujur loh*

    terus yg katakata kayak : ‘bias’ ‘lancer’ ‘semangt’ itu masih salah kaak. maksudnya kurang bener penulisannya.

    sama bagian ini :

    “Kini kaki itu sudah bias dia tapakan meski tak sempurna seperti anak normal laiinnya dan harus memakai alat bantu (Tongkat) yang dibuat oleh ayahnya sendiri karena ketidak mampuan keluarganya untuk memberikan yang terbaik kepadanya, bukan takmau memang sang ayah membelikannya tapi…. Yah Rizki adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, manusia hanya lah berusaha.”

    entah mengapa menurut saya peletakan katanya agak kurang pas.__.

    tapi overall, sudah bagus kak😀 ditunngu KH3 nya😉

  10. Waahh… mau komen panjang banget ke bawahnya… itu artinya mau apapun namanya… tulisan kek, curhatan kek, cerpen kek…. selalu ada hal positif yang bisa diambil… Ditunggu ya kisah lanjutannya.
    Oh ya… Bunda Niken bangga nih komennya dikutip diawal cerita… hehehe…

  11. Doni, kamu seusia ponakan saya.
    Betul kata teman-teman di atas, masih banyak ‘typo’=kesalahan ketik di sana-sini. Meskipun kamu bilang sudah disunting, tapi saya yang baru baca pun masih bisa menemukannya. Coba dibaca ulang perlahan-lahan. Ketika mau upload postingan dibaca lagi dulu, diedit jika masih ada kesalahan-kesalahan ketik supaya pembaca juga nyaman membacanya. OK.

    Dan ada kesalahan ketik juga di atas kolom komentar ini. Silakan temukan sendiri😉

  12. hehe., mf yah ., sampiran pertama nih ., salam kenal kembali .,🙂

    hm., berhubung kita masih sam2 belajar., ada dikit masukan nih .,
    coba deh typography nya di perhatikan lagi ..

    susunan kalimat juga kurang matching … disesuainlagi deh coba., pasti lebih srekk .,🙂

  13. Ditunggu lanjutan kisahnya. Masukan dari saya, untuk balasan komentar “celoteh tak berguna” bisa diganti dengan “celoteh saya” agar bisa memberi sugesti yang positif.🙂

    • kamu yang udah senior loh… pasti bisa, ini saya curhat aja kisah nyata😀
      masih banyak kesalahan” biak dari penulisan maupun penyusunan katanya..😡 perlu belajar.. mohon koreksinya yah.. jika ada yang slah..😉

  14. Ping-balik: Kisah Hidupku #4 [Bukan] | Desaku

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s