Sesalku Dan Sebatang Rokok


SESALKU DAN SEBATANG ROKOK

            Pengalaman adalah guru yang sejati. Sejatinya selalu menemani memori-memori kita. Sejatinya membuat seseorang menjadi sukses. Sejatinya membuat seorang untuk berharap dirinya pikun. Sejatinya membuatku hanya mampu terduduk meneliti setiap inci hamparan rerumputan yang luas di hadapanku. Sejatinya, membuatku tak tahu apakah harus menangis, ataukah harus tertawa bangga? Sejatinya bagaikan pukulan-pukulan semu yang menulusuri rongga-rongga kalbuku ini.

“Aaarrgghhh… Bapak tahu apa tentang duniaku?” dengan gerakan menggebrak meja makan.

“Wajar jika bapak tidak tahu, karena Bapak berasal di jaman purba!! Ini hanya sebuah rokok, semua teman – temanku mengisapnya. Hanya banci di sekolahku yang tidak tahu, dan mungkin bapakku juga banci.” Ucap doni, ketika kakaknya melarang mengisap rokok.

Doni pergi begitu saja setelah meluapkan kekesalannya. Dulu saat memberi nama itu untuknya aku berharap dia hadir membawa rahmat di keluargaku. Tapi ternyata nama hanya sebuah nama. Hati ini selalu pilu setiap kali mendengar kata yang terucap dari bibirnya. Bukan karena kata-kata itu. Tapi Karena lukaku sendiri. Siapa aku dulu? Dan seperti apa aku dulu?

“Don, ini bapak buatkan tongkat baru,” dengan wajah cerianya bapak menghampiriku di beranda belakang. Tampak butiran-butiran keringat di wajah bapak. Ku perhatikan pula tongkat yang beliau bawa, yang dibuat dengan penuh rasa cinta. Beliau membuatku bepikir, betapa bodohnya beliau. Apa lagi yang dia harapkan dariku? Aku ini anak yang tak berguna! Tak satupun yang dapat beliau banggakan dariku! Bahkan diriku tak pernah bermimpi untuk berjalan normal lagi!

“Maaf nak, bapak cuma bisa buatkan tongkat yang baru, bukan membelikan tongkat yang baru.” ucap bapak dengan hati yang merasa bersalah.

Dengan perasaan tak tega melihat wajah ibanya, aku pun menyambut tongkat yang baru saja beliau buatkan itu.

“Tidak apa-apa pak, buat Doni ini aja udah cukup. Yang penting kan Doni bisa berjalan?”

Melihatku menerimanya, ku lihat tak ada lagi guratan keriput di wajah bapak. Aku mencoba berdiri dengan tongkat itu.

“Palan-pelan saja nak?!” Bapak manatap dengan miris saat aku mencoba berdiri.

“Biar Femi bantu ya kak?” kata Femi yang datang bersama Mia, ibu dan nenek.

“Mia juga mau bantu kakak?” Mia berjalan mendahului Femi

“Brak!!!”

“A…a…a…aaduuhhh..!” Jeritku kesakitan.

Aku terjatuh sebelum Femi dan Mia sempat membantuku. Bapak membantuku berdiri. Sedang yang lain hanya menatapku dengan iba. Betapa terpuruknya aku, padahal waktu yang silam aku adalah pria terkeren. Kenapa tidak? Sejak duduk di bangku kelas 5 SD aku sudah mengenggam rokok. Itulah masa-masa kejayaanku.

“Kita coba lagi ya nak?” bapakku tak mau lepas harapan.

“Iya pak”, jawabku.

Tak ingin mengecewakan beliau untuk yang kesekian kalinya, aku turuti keinginannya. Untuk sebuah permulaan, aku cukup berhasil. Semuanya tampak senang, mereka menemukan sebuah harapan di setiap gerak langkahku yang pelan itu. Mereka membuat aku percaya akan diriku sendiri, dan aku berjanji tak akan melakukan kesalahan yang sama.

Sekian lama ku lenyapkan diriku dari bangku sekolah, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke sekolah. Walau masih menggunakan tongkat. Aku bertekad untuk merubah diriku.

Dengan semangat, aku pun berangkat ke sekolah. Diantarkan ojek, yang kebetulan adalah tetanggaku sendiri. Sesampainya di gerbang sekolah aku beranikan diri memasuki sekolah. Tak peduli jika semua menatapku dengan “iba” atau mungkin “tanda tanya”.

**************************

6 bulan kemudian. Kini aku sudah berada di bangku SMP. Dengan suasana yang baru, aku pun sudah bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat, walau agak pincang. “Man jadda wa jadda.” (Siapa besungguh-sungguh memang akan sukses), dan akhirnya aku sukses menghilangkan perbedaan dengan teman-teman yang lain, walau tak dapat kupungkiri, kalau aku ini masih pincang. Kali ini memang berbeda, aku tak lagi membawa bekal makanan ke sekolah, karena bapak mau memberi sedikit keringatnya untuk mengisi kantongku, yang cukup untuk membeli roti dan minuman di kantin.

“Hei Doni, udah lama ga ketemu. Ternyata kita satu SMP juga. Apa kabar?” Sapa seorang kawan lamaku.

Melihat wajahnya, tercermin semua masa laluku. Ku balas pertanyaannya dengan senyuman. Karena ku rasa dia sendiri juga tahu bagaimana keadaanku sekarang.

“Gimana rasanya?”  dia memperhatikan roti yang sedang ku pegang.

Pertanyaanya membuatku sedikit bingung.

“Roti ini?” tanyaku memastikan arah pertanyaanya itu.

“Nikmat.” jawabku yakin, padahal aku tak tahu arah pertanyaanya itu.

“Masa sih dia belum pernah merasakan roti ini, bohong kalau dia ga mampu beli roti seperti ini?”, tanyaku dalam hati.

Ku perhatikan kawan lamaku itu. Dia memasukkan tangannya ke saku bajunya. Mungkin terpengaruh dengan jawabanku dan tertarik ingin membeli roti yang sama sepertiku.

“Lebih enak mana dengan ini?” ternyata yang dikeluarkan bukanlah uang, tetapi sebatang rokok yang dia sodorkan di hadapanku. Dengan wajah cemas, aku perhatikan keadaan sekeliling. Berharap tak ada yang memperhatikan kami.

“Sebaiknya kamu ambil lagi rokok itu, aku udah lama ga ngerokok?! Lagi pula ini kan sekolah, kamu ga takut di hukum apa?!” tolakku dan pergi meninggalkannya.

Aku tidak ingin terpengaruh lagi, sebab bekas dulu masih tersisa sampai sekarang, kaki ini korbannya. Korban karena pergaulanku yang dulu.

Sepulang sekolah kulihat kawanku masih berdiri di gerbang sekolah. Sepertinya dia sengaja menungguku.

“Hei kawan, sudah mau pulang? Mampirlah sebentar, jangan pulang dulu!! Gak cocok cowok berkurung diri di rumah, kamu bukan banci kan?” tanyanya dengan sedikit ledekan. Kata – katanya membuatku seperti terhipnotis, dan aku pun mengikuti kemauannya.

Sampai di pangkalan tempat mereka berkumpul, dia memberiku sebatang rokok.

“Udah, ambil aja, aku gak nyuruh kamu buat ngisap rokok itu ko. Pegang aja, cuma buat gaya saja. Gak mau diketawain sama yang lain kan?” katanya, membuatku mengenggam rokok itu.

Dari awal aku memang salah mengambil langkah. Seharusnya aku pulang ke rumah, dan berkumpul bersama Femi, Mia dan yang lainnya. Karena saat tanganku menggenggam sebatang rokok itu, yang lainnya pasti menawarkan pemantik padaku. Merasa memiliki dan tidak ingin direbut yang lain, tentu aku akan menghisapnya. Sungguh, itu menjadi sebuah kenikmatan yang tiada tara, walau pada awalnya aku harus batuk-batuk dan ditertawakan mereka.

“Rokok itu bukan barang haram kawan, jadi jangan kamu hindari.” sedikit menepuk – nepuk pundakku.

“Benar kawan, merokok itu kewajiban setiap pria, kenikmatan setiap pria. Seperti halnya wanita, yang menikmati fashion dan shopping.” yang lain pun ikut bicara.

“Yang jadi kejaran polisi itu Narkotika, bukan rokok. Kita malah membantu pendapatan negara.” jelas kawan lamaku.

Tanpa pikir panjang, mereka telah membuatku yakin kalau merokok di usiaku itu di perbolehkan.

Sejak saat itu pergaulanku makin bebas, bapak dan yang lainnya kembali miris melihat diriku. Walau aku tahu perbuatanku salah, tapi aku masih saja melakukannya. Aku memang malu dihadap keluargaku, tapi rasa malu itu hilang saat kawan setiaku itu sudah menyodorkan sebatang rokok. Berkali-kali aku berjanji pada diriku, berkali-kali pula aku ingkari.

Suatu hari temanku menawarkan aku ganja dan semacamnya, untuk yang satu itu aku bisa mengatasinya. Hatiku enggan untuk menggunakannya, walau berkali-kali hatiku betanya-tanya saat menggenggamnya. Ternyata sedikit bekas iman masih tersimpan di paling dasar hatiku.

**********************

Setelah lulus SMP aku mencoba untuk berubah. Entah ini yang ke berapa kalinya aku bertekad untuk berubah. Aku ingin dapat berkerja dengan baik. Aku sadar kalau kakiku pincang, dan tidak banyak tempat pekerjaan yang membutuhkanku. Hingga akhirnya Aku tertarik dengan sebuah yayasan. Aku memutuskan masuk ke sebuah Yayasan yang berbasis ilmu pengetahuan dan Agama. Tapi lagi-lagi itu bukan sebuah jaminan untuk aku dapat berubah lebih baik, sebab walaupun cacat dirku bisa membentuk sebuah gank baru yang diberi nama “The King Of Brother”. Gank ini terdiri dari aku sendiri Muhammad Romdoni, dan kawan-kawanku Kuclug Ali,  Boncel Rendi, Rio Kece, Bogang Ajun dan Gendut Ilham. Dengan bangga aku berkelana dipenjuru Yayasan itu dengan menyandang predikat pembuat kerusuhan.

Hidupku terus berjalan dengan janji-janji akan perubahan pada diriku yang tak kunjung membaik. Sampai pada pertemuan ku dengan seorang wanita Sholeha. Aku merubah diriku untuknya. Perlahan tapi pasti, aku mulai mengurangi jumlah batang rokok. Aku mulai merubah sikap dan gaya hidupku. Ternyata begitu banyak pria-pria terbaik yang menyaingiku untuk mendapatkan cintanya. Perjuanganku pasang surut untuk memperolah cintanya. Di tambah lagi bapaknya yang menganggap aku berandalan, tapi akhirnya aku bisa memperlihatkan diriku yang terbaik kepada wanita itu dan keluarganya, di bandingkan pria lain. Karena wanita itulah aku berubah dengan setulus hati.

***********************

Setahun menikah kami di hadiahkan seorang anak perempuan. Kebutuhan keluargaku yang semakin meningkat, seringkali membuatku stress memikirkan pekerjaan tambahan yang harus kuambil. Dengan sembunyi-sembunyi sampai terang-terangan terhadap istriku, aku kembali menggenggam sebatang rokok untuk menghilangkan stress. Istriku seringkali menasehatiku, sebab dengan sebungkus rokok cukup sebagai pengganti sekilo gram beras untuk makan satu keluarga. Tapi aku menganggap semua ucapannya sebagai angin lalu. Sifatku kembali lagi, entahlah kenapa sifatku hilang seratus persen. Hingga sebuah goncangan menghancurkan diriku.

Istri yang ku cintai harus pergi ke dunia lain setelah memperjuangkan anak kedua kami untuk datang ke dunia ini.

“Mas jaga anak-anak kita baik-baik ya? Izinkan aku membawa sebatang rokokmu itu untuk pergi bersamaku. Jadilah bapak sekaligus ibu terbaik bagi mereka.” Pesannya di sela-sela nafas terakhirnya.

Air mataku tidak terbendung mendengar ucapannya itu. Air mataku mengalir dengan derasnya saat melihat tubuhnya yang terbujur kaku. Seandainya aku masih diberi kesempatan untuk berjanji, aku berjanji tak akan merokok lagi.

10 tahun telah berlalu. Aku memenuhi janji pada istriku untuk menjaga buah hati kami. Sebatang rokok pun tak pernah ku sentuh sayangku, itu untuk memenuhi janjiku padamu Aku berusaha keras untuk menjadi single parent yang kuat, tegas, dan pekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anakku yang harus terpenuhi.

“Sayang, aku kangen sama kamu, kamu lihat kan anak-anak kita sudah tumbuh besar. Rahmi mirip sekali cantiknya seperti kamu, sedangkan rahmad sekarang jadi lelaki yang beranjak dewasa dan sifatnya itu membuatku teringat masa lalu ku sayang, maaf kan aku sayang aku belum bisa menjadi bapak sekaligus ibu yang baik untuk buah hati kita. Sayang aku kangen ada di pelukanmu saat ini untuk berbagi kisah kita….” dalam hati doni bergejolak sambil memandang foto istrinya.

“Bapak…Bapak…” panggilan Rahmi anakku menyadarkan aku dari lamunanku, kuhapus air mataku.

“Bapak menangis? Karena ulah Rahmad? Bapak tidak perlu pikirkan dia, dia akan mendapatkan karmanya. Kita doakan dia supaya sadar saja bapak”. Kata Rahmi.

Rahmi sekarang sudah beranjak dewasa, dia menuruni sifat ibunya yang baik hati. Sedangkan Rahmat mungkin menuruni sifatku, tapi aku tidak berharap dia akan sepertiku.

“Kita masuk dulu pak sudah magrib, Bapak perlu minum obat, biar bapak cepat sembuh.” Lanjutnya mangajakku masuk.

Dengan langkah pelan aku dan Rahmi masuk, apa yang di harapkan dari aku lagi. Aku tidak butuh obat, sebab yang sakit itu hatiku. Yang aku inginkan agar Rahmat bisa menjadi pria terbaik tidak sepertiku. Aku sangat berharap tiada lagi yang seperti diriku.

*Sekian*

Ket :
Cerpen ini dibuat agar saya bisa belajar dari Abang dan Mba-nya tentang menulis.
Saya ucapkan banyak terimakasih kepada Senior-senior penulis yang sudah berpartisipasi.Terselesaikan 30 JUNI 2011 .

Dibawah ini Penulis (Editor), Asal Daerah, Judul  masing-masing yang telah di Edit.

M Romdoni (Banten)
Judul : “Kisah Hidupku” [Fart 1 s/d 4]
Ira Flp (Ternate – Kota Ambon)
Judul : “Janji Sebatang Rokok Sejati”
Enung  (Sumedang & Banten)
Judul : “Penyesalan”
Idah Ceris (Banjarnegara – Jawa Tengah)
Judul : “Penyesalan”
Niar Ningrum (Kota Surabaya)
Judul : “Aku Dan Sebatang Rokok”

38 thoughts on “Sesalku Dan Sebatang Rokok

  1. Memang susah untuk menghilangkan kebiasaan merokok dan cerita diatas menjelaskan dengan jelas setelah kehilangan baru bisa menyadarkan untuk berhenti merokok, intinya keinginan dr dalam diri yg hrs dikuatkan jika ingin berhenti, yoo ora…??

  2. Ping-balik: Cerita anak muda tentang rokok « Catatan Anak Muda

  3. tra setuju dengan kata kata “tak akan merokok lagi”. 😀 cerpen yang bagus doni dan ada amanatnya yang tersirat bisa menyadarkan anak abg sekarang.

  4. lho?
    yang saya edit itu judulnya penyesalan ya mas. .🙂

    semoga tulisan ini bisa memotivasi mas doni dan teman-teman yang membaca, untuk mengurangi sampai akhirnya tidak merokok.🙂

    Salam Senyuum. .. ^_*

    • iya, kan awalnya itu “Kisah Hidupku” kemudian di edit sama Ira “Janji Sebatang Rokok Sejati” di edit lagi sama Enung “Penyesalan” nah Mba Idah edit, judulnya gak di gantikan masih “Penyesalan” nah terakhir di edit sama Niar “Aku dan Sebatang Rokok”.

      Saya baca lagi semua editan masing-masing ada dalam tulisan ini saya edit judul jadi “Sesalku dan Sebatang Roko” tidak ada yang hilang antara 3 judul tersebut, “penyesalan” “sesal”:mrgreen:

      ini editan mba juga😀
      Makasih loh ya mba mau partisipasi semoga ini jadi awal yang baik buat saya tentunya😉

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s