Usut Kekerasan Oknum Polisi Terhadap Aktivis Sejumlah Mahasiswa Blokir Jalan


SERANG – Sejumlah mahasiswa Universtiats Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten tergabung dalam Untirta Movement Community (UMC) berunjukrasa di depan kampus di Jalan raya Jakarta, Pakupatan Kota Serang dengan memebakar ban bekas dan memblokir jalan, Selasa, (17/7). Dalam aksinya, massa mengecam atas tindakan kekerasan terhadap dua orang mahasiswa dari Himpunan mahasiswa tangerang (Himata) menjadi korban yang dilakukan oknum Polisi Polres Metro Tangerang pada Senin, (9/7) lalu di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tangerang.

“Ini merupakan sebuah tindakan anti demokrasi yang dilakukan oleh sejumlah oknum apara kepolisian. Seharusnya, pihak kepolisian tetap bisa menjaga dan memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja mereka. Bukan malah sebaliknya bertinda represif dan brutal dalam penanganan aksi demontrasi Himata yang menolak terhadap Peraturan daerah (Perda) Pertambngan,” tegas kordinator aksi UMC Untirta Banten, Mahendra dalam orasinya.

Aksi unras tersebut, yang dimulai sekitar pukul 15:30 Wib dengan memebakar ban bekas serta pemblokiran jalan yang mengakibatkan kemacetan panjang, untungnya kemacetan itu bisa terurai dengan pengalihan arus oleh sejumlah petugas Polantas Polres Serang yang menjaga aksi tersebut. Selain itu, sebagian massa juga membagikan selembaran kertas kepada pengendara kendaraan yang melintas yang berisiskan sebagai bentuk protes atas kekerasan yang dilakukan oknum Polisi Metro Tangerang.

Dengan demikian, lanjut Mahendra, pihaknya mendesak sebanyk tiga tuntutan yang pertama kepada Kapolri maupun Presiden Republik Indonesia untuk mengusust tuntas kasus penganiayaan terhadap kawan-kawan aktifis mahasiswa, dan yang kedua pecat Kapolres Metro Tangerang.“Sedangkan tutuntan yang ketiga pihak mahasiswa stop kekerasan terhadap aktifis apapaun bentuknya. Kami, dari diskusi bergerak menuju perubahan,” tandas Mahendra.

Ditempat yang sama, massa lain dalam orasinya, penganiyaan terhadap dua aktifis social yang kembali terjadi di bumi banten dialami dua mahasiswa Tangerang dalam aksi penolakan Perda pertambangan, tindakan oknum Polisi dianggap seperti tidak mengangap manusia bagi para aktifis. “Kami adalah manusia yang memepunyai hak untuk menyeuarakan aspirasi. Karena, inilah sebagai bentuk protes kami atas kinerja pemerintah maupun aparat keamanan,” tandasnya.

Berdasarkan pantauan Swara Banten dilokasi, sekitar pukul 16:00 Wib setelah puas menyuarakan aspirasi dengan membakar ban bekas dan pemblokiran jalan, akhirnya massa membubarkan diri dengan tertib. ASOL

Sumber :  SwaraBanten.Com

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s