Ibuku Hanya Memiliki Satu Mata


Hari ini aku beranjak dari rumah menuju sekolah, Semangat yang aku kobarkan sejak semalam karena ada tugas dari guru pelajaran kesukaanku hari ini.

Tak terasa, waktu belajarku sudah habis dikelas dan memuaskan. Tugasku yang aku buat semalam mendapat pujian dari guru.

“Naya kesini!”

“Iya Pak!”

“Anak-anak contohlah sahabat kalian ini, dia begitu sempurna mengerjakan tugasnya”

“Iya Pak….!!!” Seraya suara gemuruh ramai dikelas karena pujian yang diberikan Pak Guru kepadaku.

 

“Kamu pulang sama siapa” Tanya temanku didepan halaman sekolah saat bel sekolah telah berlalu menandakan kelas telah dipulangkan.

“Ah.. seperti biasa paling aku pulang sendiri sih” Yah memang aku selalu pulang sendiri dari sekolah, tak pernah ada yang menjemput atau mengantar ku. Padahal Ibu selalu menanyaiku.

“Nak, apa mau ibu antar?”

“Nak, apa mau ibu jemput?”

Dan aku selalu menjawab “Tidak, Tidak usah” dengan cueknya mejawab pertanyaan ibu, bahkan aku sering balikan muka saat ibu menanyaiku seperti itu. Dan hari itu rupanya.

“Naya….! Yuk pulang…! Ayo Nak..!”

Suara lantang namun begitu syahdu bagi anak yang mencintai seorang ibu. Namun untukku seperti aungan harimau yang akan membunuhku.

“Ngapain ibu malah kesini, sialan” Sekejap pikirku jengkel.

 

“Itu ibumu?” Tangan temanku merekat dipundak membalikan arah pandanganku dari wanita diujung gerbang sekolah yang tak lain adalah ibuku sendiri.

“Bukan!”

Singkat, padat dan tentu saja jelas. Namun teman-temanku rupanya tahu kalau aku berbohong. Tapi, aku tak peduli setelah menjawab pertanyaan itu aku lekas beranjak dari halaman sekolah menuju gerbang dimana ada seorang wanita tua yang membuat aku jengkel setengah mati karenanya.

“Ngapain sih pake acara jemput aku segala”

“Ibu hawatir nak”

“alaaaahhhh…..”

“Pulang…” Dengan rasa kesal aku tarik tangan berkulit peot dan tulang rapuh itu agar tak nampak dihadapan teman-temanku.

***

 

Keesokan harinya di sekolah aku jadi bahan ejekan.

“Ibumu bermata sebelah?!?. Yeeeee…. Ibumu bermata sebelah?!?. Yeeeee…. Ibumu bermata sebelah?!?. Yeeeee…..”. Ejekan teman-temanku.

 

Malu sangat malu, dan aku ingin segera pulang ketika itu.

“Kenapa dia masih diberikan hidup?. Kenapa ibuku tak  mati saja dan segera lenyap dari muka bumi ini”. Rasa kesal yang aku luapkan pada pikiranku dan kepada Tuhan.

 

Dirumah aku tanyakan kepada ibuku, “Kenapa engkau tadi menjemputku dan kenapa ibu hanya memiliki satu mata? Aku ini kan malu! Kalau engkau hanya ingin aku menjadi bahan ejekan orang-orang, kenapa engkau tidak segera mati saja?!!!?”

Ibuku tidak marah, ia hanya diam seribu bahasa nyaris tanpa reaksi hanya setitik air mata sempat aku lihat dari sudut matanya. Akupun merasa tidak enak hati, namun disaat yang sama, aku harus mengatakan apa yang ingin aku katakan selama ini.

Mungkin ini karena ibuku tidak pernah menghukumku sejak kecil. Aku bahkan tidak berpikir kalau aku telah sangat melukai perasaannya dengan kata-kataku seperti itu.

 

Malamnya. Aku bangun dan hendak menuju ke dapur untuk mengambil minum, kulihat ibuku sedang Shalat Malam. Suara isak tangis yang tersumbat dengan mulut lembut dan lantunan doa, mungkin ibu khawatir tangisannya akan membuatku terbangun.

Kutatap ia, Hatiku merasa tak enak dan kemudian aku pergi meninggalkannya. Dan sekejap aku lupakan rasa tak enakku kepadanya itu.

 

“Aku ingin cepat menjadi dewasa dan menjauhi darinya, bisa menjadi orang sukses dan segera  meninggalkan rumah ini”. Tekadku untuk pergi menjauhi ibu karena aku tak mau terus-terusan malu dibuatnya.

Sejak itu pula aku tekun belajar dan berhasil mendapatkan beasiswa S1 dan S2 di Australia dan tinggalkan ibuku sendirian di gubuk tua tempat dimana aku dilahirkan. Selama aku belajar di Australia tidak sekalipun aku pulang, telepon atau berkirim surat pada ibuku . Aku menganggap ia telah mati

***

 

Setelah kuliah kemudian aku bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta, menikah dan membeli rumah dengan jerih payahku di daerah elit tentunya. Akupun mempunyai anak dan tinggal dengan bahagia segabai seorang eksekutif muda yang sukses. Aku sangat bahagia kini, dan ini semakin melupakan aku kepada ibuku yang aku sangat benci.

Sampai suatu ketika… seorang wanita datang ke rumahku..

“Hah.. Apa ?! Siapa ini kok seperti peminta-minta?!” dalam pikiranku heran melihat seorang wanita tua datang kerumahku.

TernyataIa adalah ibuku yang sudah menua, yang datang dengan penampilan sederhana dan masih buta sebelah mata. Aku merasa seolah-olah langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anaku lari ketakutan melihat ibuku yang buta sebelah matanya.

“Mamah aku takuuttt…..” Teriak anakku sambil berlari kepelukanku.

Aku pura-pura bertanya “Siapa kamu?!. Aku tidak mengenalmu!!” Kukatakan seolah-olah itu benar.

Aku memakinya. “Berani sekali kamu datang kerumahku dan menakuti anak-anakku! KAMU PERGI KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA!!!?”.

Ibuku hanya menjawab, “Oh, maafkan aku tuan. Aku mungkin salah alamat?”. Kemudian ia berlalu dan hilang menjauh dari pandaganku.

Oh syukurlah dia tidak mengenaliku. Aku lega dan kukatakan pada diriku kalau aku tidak perlu khawatir. Dan akupun melupakan kejadiaan itu.

***

 

Beberapa hari kemudian, aku mendapati sebuah undangan menghadiri reuni SD – SMA ku di Kota tempat aku dibesarkan. Jadi aku pulang kampung untuk menghadiri acara reuni itu.

Setelah menghadiri reuni sekolah, aku menjumpai sebuah gubuk tua yang dulu merupakan rumahku, sekedar  ingin tahu saja dan memastikan kalau ibu tak apa-apa.

Begitu aku datang didepan rumahku, aku mendapati banyak orang di sana dan aku segera masuk, kulihat seorang wanita rentan tergeletak kaktu, Dia ibuku.

Aku perhatikan matanya masih ada bekas tetesan air mata yang ia tmpahkan. Dan Ia memegang selembar surat ditangannya. Sebuah surat untuku.

 

“Anakku, Aku rasa hidupku sudah cukup kini, dan aku merasa jika aku akanmenemui almarhum ayahmu

Tapi apakah terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau menjumpaiku sekali-kali?

Aku sangat merindukanmu..

Aku sangat gembira ketika kudengar dari orang-orang bahwa engkau datang pada reuni sekolah

Tapi aku memutuskan untuk tidak datang menemuimu ke sekolahan.

Demi engkau agar tidak malu di depan teman-temanmu

Akupun menyayangkan aku hanya memiliki satu mata sehingga membuatmu merasa sangat malu punya ibu sepertiku,

Tapi aku tidak punya pilihan.

Ketika engkau masih kecil, engkau mengalami kecelakaan dan kehilangan salah satu matamu

Sebagai ibu, aku tidak bisa tinggal diam melihat engkau akan tumbuh besar dengan satu mata.

Jadi kuberikan salah satu mataku untukmu.

Aku sangat bangga melihat engkau hidup dengan sempurna.

Aku merasa cukup melihat semua kebahagiaanmu.

Aku tidak bisa membayangkan anakku hidup dengan satu mata

Aku tidak pernah marah dengan apa yang kau pernah kau lakukan padaku, sekalipun engkau suka memarahiku.

Aku hanya berkata pada diriku,

“ini karena engkau ingin mencintai ibu yang ‘Normal’ seperti anak-anak lain”

Maafkan aku ibumu ya nak.

 

Demikian isi surat ditangan ibuku.

***

 

Banyak hikmah yang dapat dipetik dari kisah di atas, betapa besar pengorbanan Ibu kita sejak kita masih dalam kandungan. Memang benar kata pepatah, “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan”.

 

Sahabatku, bagi anda yang Ibu-nya masih hidup, coba anda renungkan :

Sudah berapa lamakah anda tidak menelepon ibu anda?

Sudah berapa lamakah anda tidak mengnjunginya dan menghabiskan waktu untuk berbincang dengan ibu anda?

Sudah berpa lamakah anda tidak membelikan baju dan makannan kesayangannya?

Ditengah-tengah aktivitas anda yang padat ini boleh jadi anda selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ibu yang kesepian di rumah. Kadang kala kita memang selalu lupa akan ibu kita yang mungkin merasa kesepian di rumah.

 

Sahanatku, bagi anda yang kebetulan ibundanya sudah wafat, coba anda renungkan :

Sudah berapa lamakah anda tidak menziarahi makamnya?

Sudah berapa lamakah anda tidak mengaji untuknya?

Sudah berapa lamakah anda tidak membakan Al-Fatihah dan ssurat Yassin untuk Almarhummah ibu anda?

Sudah berapa lamakah anda tidak mengunjungi kerabat dan sahabat ibu anda? Dan

Sudah berapa lamakah anda tidak pernah bersedekah untuk Almarhumah  ibu anda?

 

Inspirasiku dari Video di You Tube “kisah penuh hikmah “IBUKU BUTA SEBELAH MATA”

32 thoughts on “Ibuku Hanya Memiliki Satu Mata

  1. Subhanallah pengorbanan seorang Ibu.
    terharu bacanya, semoga kita termasuk anak yang berbakti kpd orang tua ya…
    terimah kasih uda mengingatkan🙂

  2. Bener2 bikin terharu kek, . . Bikin miris juga #nyesek dgn hati anaknya,
    Hati cu’ jd cenat-cenut nafsu tak karuan,

    memang benar, pengorbanan seorang ibu tak ada tandingannya, sang ibu gx akan minta ganti u/ pengorbanannya,.

  3. terharuuuu…. baru tadi malem ibu bilang “kapan pulang? emak kangen.” heuheuehuehue…. semoga kita nggak jadi orang durhaka sama ibu kita..
    tulisan bagus!🙂

  4. Maaf bru sempet jalan2 ke sini, bagus bgt, so tauchy :,) Pertanyaan lainny, masihkah kita mencium tangan beliau saat kita hendak berangkat kemanapun? Mungkin cuman simbolik aja, tradisi. Tapi di dalamnya ada makna rasa hormat dan ridlo dari beliau means ridlo dari Allah juga🙂

  5. Kangen sama ibu jadinya..
    Ku tinggal jauh sekali dengan orang tua karena pekerjaan
    Merasa Sangat berdosa sekali aku kemaren tak sempat menjumpainya..
    maafkan aanakmu Ibu..

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s