Bangkit Dari Kematian


BANGKIT DARI KEMATIAN
“Bangit dari Kematian (keterpurukan) untuk semangat yang tak terpatahkan”

 

Mungkin semua tahu seperti apa keterpurukan ataupun patah semangat yang teramat mematikan, tentunya dengan hal dan sebab yang berbeda. Ada beberapa dalam hidupku keterpurkan yang membuat aku bangkit dari kematian itu sendiri. Bagiku jika aku terkena keterpurukan itu maka aku akan mati (tak mampu berbuat apa-apa).

Logika yang biasanya aku gunakan.
Perasaan yang biasanya aku lembutkan.
Hati yang biasanya aku sabarkan.
Ketika keterpurukan itu menyapa, semua mati dalam rasa.

Aku pernah mengalami beberapa kematian, bukan berarti aku mempunyai banyak nyawa. Tapi aku mendapatkan nyawa itu setelah berbagai motivasi datang dan mendorong, menyatu sehingga menjadi nyawa yang membuat aku bangkit dari kematian itu sendiri.

 

Kematian Yang Pertama (Aku Cacat)

Seperti yang pernah aku posting dulu di blog Desaku dengan judul “Kisah Hidupku”.

Aku anak kecil yang imut, manis, nakal, lincah, asik bergaul dengan siapa saja. Ketika itu, seketika aku harus menerima kematian rasa yang hampir saja aku takkan pernah tahu bagaimana rasanya dunia ini setelah kematian itu.

Di waktu siang menjelang senja, aku terduduk diatas kasur tipis yang sebelumnya begitu tebal, namun karena begitu lama kutiduri dan kududuki maka semakin tipis. Saat itu aku memegang kipas yang terbuat dari bambu, aku pukul kakiku yang mati rasa tanpa belas kasih, aku hajar batinku dengan caci-maki kecewa pada sang waktu dan nasib.

Tetesan air mata yang mengalirpun tak terasa banyak bercucuran, bahkan bukan aku saja yang membanjiri ruangan itu dengan air mata. Ibu, Nenek, Adik-adikku pun ikut membanjirinya. Tak sadar aku berucap, “Mengapa aku diberikan hidup, kenapa sewaktu aku kecelakaan aku tak diambil saja oleh Yang Maha Kuasa. Ini siksa kehidupan yang tak bisa aku terima”. Dengan percikan air mata yang menetes dan suara yang samar. Sehingga membuat Ibuku meninggalkanku karena tak kuasa mendengar kata-kata itu. Ibu kembali dengan amarah akan kecewa, “Ya, Kenapa kau tak mati saja sejak awal, mungkin tidak akan menyusahkan seperti saat ini”.

Ku lihat rasa kecewa itu pada raut wajah Ibu. Aku tak banyak diam dan kata, kupanggil Ibuku “Ibu aku ingin dipeluk” Ibu merangkulku dengan kasih sayang yang tak terhingga dan dengan tangisan.

Sekejap dalam pelukan Ibu aku berpikir “Betapa bodohnya aku yang menginginkan kematian, bukankan setiap orang akan mati!. Pantas Ibuku marah dia yang berusaha membuat aku hidup malah dengan seenak kata aku patahkan begitu saja. Aku harus Bangkit, aku harus Bangkit dari Kematian ini. Aku pasti bisa lewati hidupku dengan kekuranganku”.

*Ini hanya kutipan, untuk lebih terperincinya silahkan baca “Kisah Hidupku” mulai dari awal sampai akhir.

 

Kematian Yang  Kedua (Ditolak Cinta Pertama)

Pernahkan sahabat merasakan yang namanya cinta pertama?, tentunya pasti pernah dan itu terjadi pada setiap orang serasaku.  Aku menyukai seorang perempuan ini (sebut saja Ina). Gadis pintar, manis, namun agak sangar (tomboy) dia dalah orang yang pertama membuat aku tertarik kepada seorang perempuan. Sejak masih duduk dikelas 2 SD aku sudah menyukai perempuan ini, namun tak pernah aku ungkapkan, namanya juga cinta monyet, apalah arti dari kata cinta itu senidir mana aku tahu, aku hanya taku bahwa aku suka dengan perempuan itu.

Sekian lama aku pendam rasa yang semakin lama semakin menumpuk seperti gunung karena kesabaranku yang semakin aku tingkatkan ketika dia harus pindah ke Lampung pada saat kenaikan Kelas 5 SD, aku hanya bisa diam tanpa kata dan hanya bisa bersabar karena aku tak tahu apa-apa.

Aku duduk dibangku Kelas 3 SMP waktu itu dengan segenap ke keberanian dan rasa takut dicincang sampai mati oleh perasaan itu, aku beranikan diri untuk bicara dengannya. Tentunya dengan cara yang unik sekali pada saat itu (cara jadul). Aku pada saat ingin mengutarakan perasaan itu, sebelumnya membuat beberapa puisi yang aku tulis dibuku, hingga satu buku itu penuh oleh puisi semua, aku berikan kepadanya dengan harapan bisa diterima. Namun akhirnya keputusan dia tidak seperti yang aku harapkan, dia menolaku dengan secara halus dan lugu, “Kita sejak kecil sudah menjadi teman dan masih ada ikatan saudara, tidakkah kita akan kena marah orang tua? Dan Ina masih ingin konsentrasi untuk belajar”. Spontan aku tersenyum dan berucap “Iya gak apa-apa, yang penting aku sudah menutarakan perasaan yang selalu menghantuiku dari sejak kecil”.

Taukah sahabat bagaimana rasanya. Sakit. “Tersenyum dalam hijab luka akan lebih menyakitkan daripada dicambuk 100 kali cambukan tanpa henti”. Itu yang aku rasaakan pada saat itu hingga aku mengurung diri selama 1 (satu) minggu dalam kamar tanpa kata dan bahasa.

Namun karena aku sangat dekat dengan Nenek dan Ibu, aku bicarakan hal itu. Arwah semangat itu mereka dorong padaku dengan perlahan hingga menjadi nyawa baru untuku. Seperti bayi bangun dari rahim seorang Ibu, tangis bahagiapun aku rasakan. Dari sini aku sadar dan bangkit kembali dari kematian untuk yang kedua kalinya.

 

Kematian Yang Ketiga (“Tanpa Kategori”)

Dunia maya sudah seperti dunia nyata bagiku.

Aku bergelut didunia ini.
Dunia yang semu
Dunia tanpa makna

Sebuah kisah cinta aku tulisakan
Canda, tawa, luka, lara menjadi ukiran diduniaku
Dunia Maya

Aku tak pernah menganggap dunia ini dunia maya yang hanya kita berkenalan lalu lupa. Seperti sahabat semua dalam dunia nyata, bagiku “sahabat adalah saudara”. Maka ketika aku mempunyai sahabat di dunia maya aku sudah anggap sebagai saudara mayaku. Buka hanya itu, hingga kepada seorang perempuanpun aku demikian. Mungkin beberapa dari sahabat sudah tahu tentang LDR-an saya dengan seorang perempuan itu.

Sebuah kata “sayang” yang aku ucap
Tanpa suara, Tanpa rupa.
Aku ucap dari hati

Kemudian dia matikan
Dengan kata “menyerah”

Hanya senyum luka sabar kuhadainya
Karena aku tahu itu adalah pilihan hidup seseorang

Menahan sakit yang teramat sakit
Memenahan luka yang begitu menyayat
Semakin mencabik-cabik perasaanku
Hingga aku Mati

Ketika kematian ini menyapaku lagi untuk yang kesekian kalinya, kali ini begitu banyak motivasi yang aku dapat hingga membuat nyawaku yang begitu kuat.

Orang tua, Sahabat Bloggers, Facebook, Tweet, mereka semua adalah motivasiku, semangatku, hingga kini aku bangkit dengan semangat yang tak terpatahkan dari yang sebelumnya.

“Manusia memang tercipta untuk merasakan sebuah ketrpurukan maupun luka dengan hal yang berbeda. Namun, itu lah yang harus kita rasakan untuk bekal di masa depan dengan semangat yang tak pernah terpatahkan”

“From Zero To Hero”

 

Tulisan ini diikutsertakan pada “Lovely Little Garden’s First Give Away”

34 thoughts on “Bangkit Dari Kematian

  1. Hmmm… Bunda mengikuti Kisah Hidupku 1,2,3,4 (sampai 4 khan…?). Bahkan di Kisah Hidupku 2 ada komen bunda yang Dhonie abadikan di awal postingan. Bunda mrs terharu dgn itu.

    Bagaimana Dhonie bangkit dari kematian, terutama kematian pertama… buat bunda itu membutuhkan effort yang luar biasa.

    Tulisan ini terdaftar sebagai peserta Lovely Little Garden First Give Away..
    Trimakasih ya Dhon…
    Semangaaattt…!!

  2. Untuk cerita2 diatas kayaknya aku mengikuti kisahnya deh. . .🙂
    Apalagi kaalu tentang love2an sama nisa. . . 😀
    kalau kematian di dunia maya?😆 #ada2 saja ah. . .😛

    Sukses ngontesnya ya, Mas.😛

  3. Sering kali aku terpuruk yang katanya bang doni adalah mati, kemudian aku bangkit berkat teman2, dan tentu semangat jiwa, jangan jadi orang yang merugi dengan berlama-lama bersama keterpurukan, semangat terus bang \(^0^)/ yey

  4. untuk menjadi hebat terkadang memang diperlukan kenangan yang pahit mas

    semoga kisah ini menjadi kisah yang berharga untuk menyemangatai sampeyan saat ini dan seterusnya

    Sukses buat GA nya mas Doni

  5. Tetap SEMANGAT Doni! roda kehidupan manusia tidak selalu berada dibawah, mungkin kamu saat ini merasa sedang berada dibawah, percayalah suatu hari pasti ada saatnya kamu berada diatas. Tetap optimis dan cari kebahagianmu🙂.

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s