Pertama Kali Membuat Kartu ATM


Sebenarnya saya bingung mau ikutan kontes ini atau enggak, soalnya ini kontes kenangan bertema “Kenangan Hari Kemerdekaan dan Hari Raya Idul Fitri”, sedangkan saya tidak ada kenangan yang menarik. Apa yang saya mau ceritakaan dalam dua tema tersebut? Namun setelah say abaca postingan tetangga sebelah yang membahas tentang bagaimana dia membekukan kartu kredit-nya. Saya teringat ketika saya pertama kali membuat Kartu ATM. Saya putuskan untuk menulis kenangan ini.

Semoga tulisan ini bisa ikut serta meramaikan Kontesnya Bunda Sumiyati.

Waktu UAS usai saya langsung kerja di  EAZYNET  BADUY, sebuah warnet kecil yang dikelola oleh Bang Saepul Ali yang kebetulan sebagai Project Head di EAZYNET Jakarta, sehingga beliau jarang sekali mengontrol EAZYNET BADUY. Beliau pulang biasanya pada hari minggu dan tanggal 30 (Tiga Puluh) atau 31 (Tiga Puluh Satu) untuk menggaji saya dan teman saya. Disebabkan Bang Ali sendiri sibuk dengan pekerjaannya, Bang Ali menyarankan saya agar membuat Kartu ATM supaya pas tanggal 1 (Satu) Bang Ali tidak repot-repot pulang pergi dari Jakarta ke Rangkasbitung untuk (hanya) memberikan gaji pada saya.

 

Waktu itu Bang Ali memberika saya uang sebesar Rp. 500.000,- agar bias membuat ATM. Karena, bank yang saya tuju adalah demikian persyaratannya. Minimal pertama menabung Rp. 500.000,- .

Akhirnya saya berangkat ke bank untuk menabung, sayangnya hari itu saya hanya membawa uang sebesar Rp. 506.000,- , dan ternyata pas kita ingin membuat atau menabung harus membeli Matrai.

Kesalnya. Kenapa bank tidak bisa ditawar?

Saya tawarkan kepada CS bank tersebut agar menahan KTP saya untuk jaminan, soalnya kalau saya pulang dengan tangan hampa, rasanya tidak enak sama Bang Ali. Tapi, CS itu bersikeras menyuruh saya untuk pulang dan kembali lagi esok harinya. Dengan sangat disayangkan dan terpaksa akhirnya saya pulang. Karena bengsin motor yang saya pinjam dari seorang teman sudah sangat minim, sehingga tidak memmungkinkan uang yang Rp. 6.000,- itu saya belikan matrai, bias-bisa saya pulang dorong motor sampai ke Warnet. Dengan rasa kecewa yang mendalam saya pun pulang dengan tangan hampa, tanpa sebuah hasil.

 

Esok harinya saya bersiap-siap untuk berangkat, Teh Helmi (Istri Bang Ali) memberikan uang Rp. 25.000,- secara cuma-cuma kepada saya, karena beliau sudah tahu bahwa kemarin saya pulang tanpa hasil kekurangan uang. Saya pun bergegas ke bank yang kemarin saya datangi.

 

Setibanya di bank saya segera mengngambil nomor urut antrian, duduk manis menantikan sound yang tepat diatas kepala saya menyebutkan nomor urut yang saya genggam. Lama, membuat gondok, pikiran saya melayang kemana-mana, rasa kesal yang diakibatkan menunggu sehingga membuat saya sedikit menggerutu dalam hati “Kenapa lama sekali? Mana ini yang kedua kalinya masa harus gagal lagi, menyebaklan”.

 

Kursi antrian yang tadinya penuh ditempati orang,sudah mulai kosong, bahkan pintu masuk pun sudah ditutup. Kemudian saya bertanya kepada Pak Satpam, “Loh kok di tutup pak? Apa bank-nya sudah tutup? Terus bagaimana dengan saya yang sudah mengantri sejak tadi pagi?”, pukul 09:00 WIB saya sampai di bank, pintu masuk ditutup pukul 17:00 WIB. Pak Satpam itu menjawab “Tidak pak, silahkan bapak menunggu panggilan nomor urut bapak, ini hanya menjaga mesin ATM saja, sesuai dengan peraturan perusahaan”. Untung saja belum tutup, rasanya kalau sampai tutup itu bank pasti saya ubrak-abrik, karena kesal lama menunggu.

 

Saya tengok kana-kiri saya ternyata sudah tidak ada satu orang pun yang duduk mengantri menunggu nomor urut seperti halnya yang saya lakukan. Saya berdiri memandangi CS bank tersebut, entah takut atau mungkin sudah waktunya saya untuk dipanggil. Terdengar nomor urut yang saya genggam “Nomor antrian 106, apa ada?” seolah olah saya tidak dianggap manusia, memangnya saya batu. Sedikit lantang saya menjawab “Ada bu!”. Bergegaslah saya menghampiri CS bank tersebut dengan ditanya ini itu. CS-nya bertanya “mau pake Kartu ATM yang mana pak?” ada tiga pilihan yang ditawarkan CS bank tersebut, dia pun menjelaskan satu-persatu dengan kelebihan dan kekurangannya. Sudah beres pemilihan Kartu ATM, saya disuruh tandatangani Kartu ATM yang saya pilih. Tapi sebelumnya, saya disuruh melakukan perconbaan tanda tangan pada kertas kosong. Pertama ok, kedua kailnya CS bank itu melihat tanda tangan saya, entah tanda tangan saya yang jelek atau memang CS itu tidak percaya pada saya, hampir lebh dari sepuluh kali saya mengikuti percobaan tanda tangan. Karena kesal saya menyarankan kepada CS tersebut,”Gimana bu kalau pake cap jari saja?” kembali pada jaman kolot yang belum bisa menandatangai sebuah perjanjian dan dengan cap jari lah mereka menggunakan tanda tangan, padahal menurut saya itu kan lebih terjamin keamanannya. Rupanya saran saya tidak dihiraukan. Untuk kesekian kalinya CS itu menyuruh saya untuk menandatangi pada kertas kosong lagi dan lagi. Mungkin karena kesal dan sudah mau tutup bank-nya akhirnya saya disodorkan Kartu ATM dan disuruh menandatangi pada Kartu ATM tersebut. Seperti terpaksa.

Akhirnya saya punya Kartu ATM dan Isi uang yang senilai Rp. 500.000,- itu keesokan harinya saya ambil kembali sebesar Rp. 400.000,-. Karena itu bukan hak milik saya, melainkan pinjaman dari Bang Ali untuk membuat awal Kartu ATM-nya.

 

Sangat disayangkan Kartu ATM tersebut saat ini sudah hilang entah kemana, dan saya malas melapor ke pihak bank.:mrgreen:

Tulisan ini diikutsertakan pada Kontes Kenangan Bersama Sumiyati-Raditcelluler 

Banner Kontes

33 thoughts on “Pertama Kali Membuat Kartu ATM

  1. heheeee…. lumayan membuat senyum2 sendiri cerita ini Mas,,,

    hmmm, bleh nanya?

    males apa takut Mas?
    takut disuruh latihan tanda tangan lagi heheeee……

    sukses kontesnya ya Mas….

  2. Wah.., jumplahnya kq ampe harus segitu yah mas.
    Kalau saya dulu masih mudah mas. cuma 500 dah dapet dan itu masih kepake hingga kini..:mrgreen:

    Selamat untuk kontesnya..😀

  3. Qiqiqi…. Bunda jadi geli tapi juga kasian mbayangin Dhonie berjuang dapat kartu ATM… Mana skrg sdh hilang pula…
    Tanda tangan aja kalah tuh sama anak bunda yg kelas 5 SD… Wkwkwk… Pisss aahh….

    EYDnya lumayanlah… Kemajuan. Makanya sering2 ikutan kontes/lomba. Selain bljr EYD, bljr menulis dgn tema yg sdh ditetapkan. Jadi ga kesan galau poreper gitu lho Nak…

    Semoga sukses dengan kontesnya… Mantap Dhonie…!!

  4. ceritaya menarik, endingnya belum putus, seharusnya jangan males kunjungi bank tersebut untuk melapor bahwa atm hilang, sudah putus asa duluan ya Mas Dhonie , treima kasih sudah tercatat sebagai peserta kontes kenangan sumiyati raditcelluler🙂

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s