Masa Depan Dibalik Tabir


 “Setiap manusia hanya bisa berencana dan merencanakan, namun pada akhir yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa”.

Kalimat diatas yang mungkin terjadi padaku saat ini, dimana aku yang sudah merencanakan dan berencana sedemikian rupa untuk masa depanku sendiri kini berubah total dimulai dari nol kembali.

Sistem kehidupan yang tidak bisa kuterka dengan logika, kadang membuat aku sendiri kelapakan kebingungan. Kata orang, “Hidup itu biarkan mengalir seperti air”, “Nikmati apa yang ada sekarang, biarlah bagaimana nanti”. Bagiku bukan demikian, “Hidup harus kita arahkan sedemikian rupa” meski pada pertengahan dan akhirnya pasti ada perubahan. Tapi kita masih punya rencana cadangan, dari B, C, D sampai Z. Karena dari rencana akan perencanaan kita yang sedemikian rupa tidaklah semuanya akan nihil hasilnya, pastilah ada yang kita raih. Kemudian, “Hidup meski kita pikirkan akan masa depan, bukan ‘biarlah nanti bagaimana’ tapi ‘nanti bagaimana’”.

Perencanaan pertama ketika masuk kuliah, aku sendiri berprinsip bahwa tujuanku adalah untuk menjadi seorang guru. Dengan konsentrasi pada pembelajaran kuliah yang tanpa keluar dalam artian KUPU-KUPU (Kuliah Pulang, Kuliah Pulang). Bahkan aku enggan untuk bekerja, karena ditakutkan akan mengganggu perkuliahan. Namun tujuan itu mulai aku rubah dengan sistem logikaku yang berbeda. Melihat situasi perekonomian keluarga yang tidak setabil, aku pun dituntut untuk bekerja. Kemudian aku mempunya prinsip, dua tahun aktif organisasi, dua tahun aktif kuliah. Dengan jangka empat tahun itu aku rencanakan sedemikian rupa, dengan pertimbangan atas konsekuensi akan akibat dan masalah yang  datang. Namun aku mendapati sebuah buku yang menyatakan, “Seorang guru yang ideal (baik) tidak lah cacat”[1], mungkin aku salah mengartikan dari kata “cacat”. Entah itu dari fisik secara luar ataupun fisik secara dalam (mental). Dalam buku tersebut tidak disebutkan demikian. Aku mulai mencari antisipasi akan hal itu, ditakutkan mengacu pada fisik luar. Aku sadar bagaimana fisiku sendiri. Selain itu peluang untuk menjadi seorang guru semakin lama semakin kecil, melihat perkembangan sistematika dari pemerintah maupun lingkungan yang ada.

Dari situlah aku mulai merubah, bahwa aku tidak terpaku pada satu tujuan bukan cita-cita [2]. Aku masih punya harapan masuk DEPAG (Departemen Agama), dengan titel nanti yang aku raih sesuai jurusan[3].  Jika tujuan itu tidak bisa aku genggam, masih ada tujuan lain yang bisa ku gapai dengan mengikuti organisasi-organisai kemahasiswaan (Ekternal Kampus) maupun LSM (Lembaga Suadaya Masyarakat), yang membuka jaringan dan pengalaman baik dari sisi ilmu maupaun kehidupan.

“Janganlah terlalu berharap akan pemberian dari orang lain, seperti kata: Tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”. Kalimat ini mulai aku renungkan, sistemkupun aku tambahkan perencanaan yang lain.

Sekarang semua tinggak perencana, dan sekarang sistem rencanaku berubah kembali atas situasi dan kondisi.

Sekarang aku berhenti dari perkuliahan maupun pekerjaanku yang dulu (mengabdi pada senior organisasi). Meskupun sebenarnya sekarangpun aku masih mengikuti jejak dari senior. Seperti yang aku bilang pada awal-awal lalu, aku ditarik dari senior yang satu ke senior yang satunya lagi.

Meskipun aku masih menjadi perintis dari sebuah cabang Perguruan Tinggi yang rncana pada tahun 2013 akan menjadi sebuah Universitas, yang masih terhitung lama bagiku, entah karena aku tak sabar ingin kuliah kembali atau memang sifatku yang tak sabaran. Dalam jangka tiga bulan tanpa perkuliahan dan kerjaanku yang sekarang hanya stenbay dikantor dengan setumpuk berkas dan data-data yang sebenarnya belum bisa beroprasi pada apa yang ditujukan. Tapi, aku melihat sistem perkembangan waktu yang berputar dan terus berputar.

Dalam jangka tiga bulan kedepan ini akan siap dioprasikan pada bulan maret nanti, aku mesti bersabar menunggu waktu itu. Karena aku orangnya gak suka menunggu, rasa itu yang meracau setiap langkahku.

Rencana dan perencanaan kali ini, dengan apa yang aku raih nanti ketika masuk jurusan[4] yang sangat jauh berbeda dari jurusan yang aku ambil dulu, tentulah akan sedikit berbeda.

Aku sendiri bukannya enggan untuk masuk sebuah perusahaan ternama ataupun pabrik, melihat sikon fisik kemungkinan kecil untuk bisa masuk. Aku rencanakan hal itu jika terjadi dengan apa yang aku dapat, aku ingin membuat sebuah yayasan ataupun lembaga atau bahkan hanya pasilitas sekedar usaha menhidupi keluarga kukelak. Sebuah pengembangan diri di desaku tempat aku tinggal, yang kebetulan belum ada les komputer maupun bahasa inggiris. Meskipun aku tidak mahir dalam komputer apalagi bahasa inggris. Tapi ini sebuah rencana masa depan dibalik tabir yang belum kita ketahui. Jika perencanaan ini gagal apa yang akan aku lakukan?, kembali pada lembaga yang sekarang aku duduki menetap menjadi staf di sini. Bagaimana selanjutnya? Aku sendiri masih pikirkan bagaimana kedepan untuk itu sendiri. Namun setidaknya aku sudah punya perencanaan, tidak hanya memikirkan sekarang. Aku lebih pikirkan bagaimana kedepan dan akan seperti apa. Mungkin pemikiran-pemikiranku terlalu jauh, melihat usiaku yang masih sembilan belas tahun jalan. Tapi itu bukan penolakan untuk aku berencana, karena setiap manusia harus mempunyai tujuan.

“Setiap langkah kita, harus kita pikirkan dengan melihat, kekuatan, keleman, kesempatan, dan tantangan. Agar hidup lebih terarah akan dibawa kemana langkah kakiku kelak, akan seperti apa aku kelat, akan bagaimana aku kelak”.

 

“Rintangan pasti datang menghadang, cobaan pasti datang menghujan, mamun yakinlah…” (Lirik Lagu Arti Kehidupan)

[1]. Buku yang dibuat oleh Dosen kampus sekaligus Ketuayayasan dan  Rektorat STAI Wasilatul Falah.
[2]. Tujuan berbeda dengan cita-cita. Cita-cita adalah tujuan akhir dari yang kita harapkan, sedangkan tujuan adalah pertengahan dari cita-cita dan perjalanan hidup yang seolah-olah akan berubah dengan melihat situasi dan kondisi pada saat itu.
[3]. PAI (Pendidikan Agama Islam) atau Keguruan.
[4]. Informatika.

One thought on “Masa Depan Dibalik Tabir

  1. Dhonie… dari seminar Jamil Azzaini yg bunda ikut kemaren, ada 3 hal yg bisa membuat kita bisa membangun energi positif yg berdampak baik utk kehidupan kita:
    1. Nikmati
    Boleh jadi yg kita miliki dlm hidup ini bkn yg terbaik, tp dgn menikmatinya maka kita akan bahagia. Sebab bila tidak akan timbul 2M (Mengeluh dan Menyesal). Jangan fokus pada kelemahan, karena itu hanya akan membuat kita nerasa lemah. Jangan terbiasa mengutarakan keluhan, karena itu makin membuka kelemahan kita. (apalagi mengeluh di fb nak… blm tentu simpati yg dhonie dapat).
    Identifikasikan sisi positif dari pekerjaan kita. Kekurangan selalu ada bahkan pada level tertinggi sekalipun.
    2. Muliakan orang lain terutama orang terdekat.
    Orang tua itu urutan pertama. Kemudian siapa saja yg dekat dgn kita. Jangan fokus pada diri sendiri. Apa yg kita punya walaupun itu hanya sekedar senyuman tulus, berikanlah kpd org lain. Kalau kita ingin dimengerti, maka belajarlah untuk mengerti orang lain juga.
    3. Satukan hati
    Dalam sebuah lingkungan pekerjaan, diumpamakan kalian ada dalam sebuah kapal yg sama. Apabila ada 1 org yg melubangi kapal, maka kapal akan karam. Jadi satukan hati untuk bersama2 menjaga kapal itu agar dapat terus berlayar. Beranikan untuk menegur atau menasehati org yang bersalah yg nantinya akan membuat kapal menjadi bocor dan tenggelam. Satukan hati, bahwa kalian punya tujuan yg sama.

    Itu sedikit sharing dr seminar kemaren. Semoga ada yg bisa Dhonie petik dari situ.

Jangan lupa Komentar yah... :D Jangan komen Link/Smap OK ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s