Izinkan Aku

Bolehkan aku memanggil namamu
Disaat aku akan terlelap dalam tidurku
Bolehkah aku bertemu denganmu
Dalam lelapnya tidurku

Menatap wajahmu
Menggenggam erat tanganmu
Memelukmu
Mencium keningmu walau hanya dalam mimpi

Bolehkan aku tuliskan kata-kata manis
Semanis senyumu
Biarkan aku sedikit bernyani walau dengan
Suara dihanphonemu

Taukah kamu?
Aku merindumu
Tak ada selain urayan isi hatiku
Aku begitu sangat merindukanmu

Muhamad Romdoni – 05/12/2014

Iklan

Saat Itu

Berjalan dengan ketakutan
Sepintas kaki ini inginkan melangkah kebelakang
Terasa ragu akan hal yang sudah ditetapkan
Namun kuhentakan tekat keberanianku untuk melangkah

Tak terasa, kau seperti sudah ada didepan  mata

Kutanya lagi pada diriku
Apakah aku siap?
Apakah aku berani?
Dengan semua yang akan terjadi setelah ini dan itu?

Kubuka pintu ruangan ituTerlihat sosok yang tak asing dimata maya
Namun begitu asing dimata  nyata
Sosok seorang perempuan yang begitu membuatku takut

Ucap salampun kusampaikan
Dia membalas dan menoleh tersenyum

Tentunya aku masih ragu
Kuulurkan tangan untuk bersapa
Grogi
Ya, itu yang aku rasa hanya berbincang dengan sahabat
Seolah dia tak ada dihadapanku

#Curhat ini mah ;-), Hehee :mrgreen: Nanti lanjut deh 😉

Masa Depan Dibalik Tabir

 “Setiap manusia hanya bisa berencana dan merencanakan, namun pada akhir yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa”.

Kalimat diatas yang mungkin terjadi padaku saat ini, dimana aku yang sudah merencanakan dan berencana sedemikian rupa untuk masa depanku sendiri kini berubah total dimulai dari nol kembali.

Sistem kehidupan yang tidak bisa kuterka dengan logika, kadang membuat aku sendiri kelapakan kebingungan. Kata orang, “Hidup itu biarkan mengalir seperti air”, “Nikmati apa yang ada sekarang, biarlah bagaimana nanti”. Bagiku bukan demikian, “Hidup harus kita arahkan sedemikian rupa” meski pada pertengahan dan akhirnya pasti ada perubahan. Tapi kita masih punya rencana cadangan, dari B, C, D sampai Z. Karena dari rencana akan perencanaan kita yang sedemikian rupa tidaklah semuanya akan nihil hasilnya, pastilah ada yang kita raih. Kemudian, “Hidup meski kita pikirkan akan masa depan, bukan ‘biarlah nanti bagaimana’ tapi ‘nanti bagaimana’”.

Perencanaan pertama ketika masuk kuliah, aku sendiri berprinsip bahwa tujuanku adalah untuk menjadi seorang guru. Dengan konsentrasi pada pembelajaran kuliah yang tanpa keluar dalam artian KUPU-KUPU (Kuliah Pulang, Kuliah Pulang). Bahkan aku enggan untuk bekerja, karena ditakutkan akan mengganggu perkuliahan. Namun tujuan itu mulai aku rubah dengan sistem logikaku yang berbeda. Melihat situasi perekonomian keluarga yang tidak setabil, aku pun dituntut untuk bekerja. Kemudian aku mempunya prinsip, dua tahun aktif organisasi, dua tahun aktif kuliah. Dengan jangka empat tahun itu aku rencanakan sedemikian rupa, dengan pertimbangan atas konsekuensi akan akibat dan masalah yang  datang. Namun aku mendapati sebuah buku yang menyatakan, “Seorang guru yang ideal (baik) tidak lah cacat”[1], mungkin aku salah mengartikan dari kata “cacat”. Entah itu dari fisik secara luar ataupun fisik secara dalam (mental). Dalam buku tersebut tidak disebutkan demikian. Aku mulai mencari antisipasi akan hal itu, ditakutkan mengacu pada fisik luar. Aku sadar bagaimana fisiku sendiri. Selain itu peluang untuk menjadi seorang guru semakin lama semakin kecil, melihat perkembangan sistematika dari pemerintah maupun lingkungan yang ada.

Dari situlah aku mulai merubah, bahwa aku tidak terpaku pada satu tujuan bukan cita-cita [2]. Aku masih punya harapan masuk DEPAG (Departemen Agama), dengan titel nanti yang aku raih sesuai jurusan[3].  Jika tujuan itu tidak bisa aku genggam, masih ada tujuan lain yang bisa ku gapai dengan mengikuti organisasi-organisai kemahasiswaan (Ekternal Kampus) maupun LSM (Lembaga Suadaya Masyarakat), yang membuka jaringan dan pengalaman baik dari sisi ilmu maupaun kehidupan.

“Janganlah terlalu berharap akan pemberian dari orang lain, seperti kata: Tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”. Kalimat ini mulai aku renungkan, sistemkupun aku tambahkan perencanaan yang lain.

Sekarang semua tinggak perencana, dan sekarang sistem rencanaku berubah kembali atas situasi dan kondisi.

Sekarang aku berhenti dari perkuliahan maupun pekerjaanku yang dulu (mengabdi pada senior organisasi). Meskupun sebenarnya sekarangpun aku masih mengikuti jejak dari senior. Seperti yang aku bilang pada awal-awal lalu, aku ditarik dari senior yang satu ke senior yang satunya lagi.

Meskipun aku masih menjadi perintis dari sebuah cabang Perguruan Tinggi yang rncana pada tahun 2013 akan menjadi sebuah Universitas, yang masih terhitung lama bagiku, entah karena aku tak sabar ingin kuliah kembali atau memang sifatku yang tak sabaran. Dalam jangka tiga bulan tanpa perkuliahan dan kerjaanku yang sekarang hanya stenbay dikantor dengan setumpuk berkas dan data-data yang sebenarnya belum bisa beroprasi pada apa yang ditujukan. Tapi, aku melihat sistem perkembangan waktu yang berputar dan terus berputar.

Dalam jangka tiga bulan kedepan ini akan siap dioprasikan pada bulan maret nanti, aku mesti bersabar menunggu waktu itu. Karena aku orangnya gak suka menunggu, rasa itu yang meracau setiap langkahku.

Rencana dan perencanaan kali ini, dengan apa yang aku raih nanti ketika masuk jurusan[4] yang sangat jauh berbeda dari jurusan yang aku ambil dulu, tentulah akan sedikit berbeda.

Aku sendiri bukannya enggan untuk masuk sebuah perusahaan ternama ataupun pabrik, melihat sikon fisik kemungkinan kecil untuk bisa masuk. Aku rencanakan hal itu jika terjadi dengan apa yang aku dapat, aku ingin membuat sebuah yayasan ataupun lembaga atau bahkan hanya pasilitas sekedar usaha menhidupi keluarga kukelak. Sebuah pengembangan diri di desaku tempat aku tinggal, yang kebetulan belum ada les komputer maupun bahasa inggiris. Meskipun aku tidak mahir dalam komputer apalagi bahasa inggris. Tapi ini sebuah rencana masa depan dibalik tabir yang belum kita ketahui. Jika perencanaan ini gagal apa yang akan aku lakukan?, kembali pada lembaga yang sekarang aku duduki menetap menjadi staf di sini. Bagaimana selanjutnya? Aku sendiri masih pikirkan bagaimana kedepan untuk itu sendiri. Namun setidaknya aku sudah punya perencanaan, tidak hanya memikirkan sekarang. Aku lebih pikirkan bagaimana kedepan dan akan seperti apa. Mungkin pemikiran-pemikiranku terlalu jauh, melihat usiaku yang masih sembilan belas tahun jalan. Tapi itu bukan penolakan untuk aku berencana, karena setiap manusia harus mempunyai tujuan.

“Setiap langkah kita, harus kita pikirkan dengan melihat, kekuatan, keleman, kesempatan, dan tantangan. Agar hidup lebih terarah akan dibawa kemana langkah kakiku kelak, akan seperti apa aku kelat, akan bagaimana aku kelak”.

 

“Rintangan pasti datang menghadang, cobaan pasti datang menghujan, mamun yakinlah…” (Lirik Lagu Arti Kehidupan)

[1]. Buku yang dibuat oleh Dosen kampus sekaligus Ketuayayasan dan  Rektorat STAI Wasilatul Falah.
[2]. Tujuan berbeda dengan cita-cita. Cita-cita adalah tujuan akhir dari yang kita harapkan, sedangkan tujuan adalah pertengahan dari cita-cita dan perjalanan hidup yang seolah-olah akan berubah dengan melihat situasi dan kondisi pada saat itu.
[3]. PAI (Pendidikan Agama Islam) atau Keguruan.
[4]. Informatika.

Ternyata Belum Dewasa!

Sudah lama enggak posting curcol, kali ini aku kembali dengan curcol alaku sendiri. Meski sebenarnya puisi yang belum bisa disebut puisi sudah mewakili isi hati seorang dhoni tapi belum bisa aku sebut sebagai curcol. Lantas sepertia apa yang dhoni sebut curcol? Ini jawabannya.

(Bahasa ini bahasa curcol bebas, ingin meluapkan beban pikiran dan perasaan seorang dhoni)

Dewasa ya! Kata yang memang sangat berharga dan bertahta. Apa sih dewasa itu? yang gimana sih dewasa itu?

Orang bilang katanya gua dewasa entah itu dari mana mereka pada liat gua dan bisa bilang gua dewasa. Secara pemikiran? Atau raut muka? Setau gua sih kebanyakan didunia maya bilang gitu apalagi di facebook lain halnya sama di twitter. Yang udah sering liat status atau tweet gua pasti tau gua seperti apa, bahkan bisa diliat dari setiap postingan gua selama ini seperti apa gua ini.

Secara Pergaulan. Ok lah gua dewasa. Soalnya gua sering banget bahkan tiap hari selalu bergaul dengan orang-orang yang lebih dewasa dari gua, sampe sampe gua selalu manggil sama yang lebih tua dari gua, meskipun itu hanya 1 (satu) ataupun 2 (dua) tahun beda usia, bahkan seusia gua aja, gua suka manggil “Mba”, “Abang”, “Akang” dan “Kakak”. Sebenernya kalau sekarang gua agak canggung bilang gitu, enggak tau kenapa? Dan karena apa?. Tapi, gua selalu inget apa yang diajarkan kedua orang tua gua sendiri “Hargailah mereka yang lebih tua dari kamu, Jika kamu ingin dihargai sebagai Adik. Sebenarnya, dengan kata sapa saja, kita kakan menjadi saudara meski bukan sedarah. Tapi juga, kata sapa bisa membuat permusuhan antara kita”.  Nasehat ini yang tak pernah gua lupa. Sampe sekarangpun gua masih canggung bilang “Gua”.

Secara Pemikiran. Apa gua dewasa? Pemikiran gua yang selalu diminta sama temen-temen gua di dunia maya yang memang gua sendiri enggak tau sepertia apa? Bagaimana pemikiran yang dewasa itu sendiri. Gua kalau ada yang curhat sama gua, palng bilang “Ini cobaan, hadapi dengan senyuman” (Intinya). Mungkin ini yang disebut oleh mereka kalau gua dewasa. Menurut lu pada apa ini dewasa? Bagi gua enggak, soalnya yang dewasa itu sepertia apa ya? Ah jadi bingung juga gua-nya.

Secara Sifat. Nah ini yang paling menonjol dari gua. Seperti apa yang gua bilang di atas tadi, lu tau siapa gua sifat gua dari dunia maya kayak gimana. Status facebook tweet twitter,lu pasti tau. Sifat gua yang masih labil dengan usia yang masih dibawah 20 dapat lu pada liat disitu. “Ceroboh”, “Banyak Bacot”, “Ngoceh Sana-sini”, “Cengen”, “Kadang Pemalu”, “Terlalu Terbuka”, “Sering Mengeluh”, ah semuanya deh. Sifat gua yang masih anak boca.

Itu lah gua dengan adanya gua;

Gua adalah Gua
Aku adalah Aku
dan
Saya adalah Saya

***
Sorry, kalau bahasanya agak kasar dikit, eh mungkin bukan dikit yah yapi emnag kasar banget. Enggak ada maksud lain dari postingan saya kalai ini, saya hanya meluapkan emosi dan pikiran dengan cara bahasa “GUA”, meskipun enggak biasa sih kalau disini tuh pake bahasa “GUA”, yah mau gimana lagi cuma ini tempat saya curcol :mrgreen: . Sekali lagi  mohon dimaafkan 😉

NB:
Gua orangnya gak setabil, gimana suasa sih. Dibawa kemana aja ok, jang penting gak ngelanggar aturan main gua :mrgreen: ( Jangan tanya aturan mainnya gimana ya 😛 )