Cantik Sapaku

Apa kabar kau cantik?
Sekian lama aku tak berjumpa denganmu
Nampaknya kau semakin kusam
Menua tak terbelai lembut mesra

Apa kabar kau cantik?
Bolehkah aku berjumpa dengamu lagi
Meski aku tak mengucap janji setia
Akan selalu disampingmu setiap saat

Rindukah aku!
Tentu, begitu rindu
Sekian lama tak membelaimu
Tak mengkecum pipi halusmu

Kadang tebayang wajahmu yang indah
Merona, memancarkan cahaya
Hitam pekat, gores kuning emasmu selalu ku ingat
Aku rindu kepadamu oh Desaku

Iklan

Siapa Yang Tahu?

Jika hati sudah merasa nyaman saat dengan seseorang tentulah dia tidak akan mencari seseorang yang lain lagi. Mungkin kalimat itu bisa dirasakan pada setiap orang yang jatuh cinta pada pasangannya. Tanpa berpikir panjang dan secara sehat mau pun logika karena kadang jadi gila, apa lah daya seorang jiika sudah jatuh cinta.

Hari ini aku berbincang dengannya, sempat agak jengkel sedikit karena tinggkahnya yang seakan-akan menuduh, jelas saja aku marah karena tidak merasa, meskipun aku tau bukan maksudnya menuduh. Tapi, siapa yang tidak tersinggung dengan ucapan seperti itu.

Kenapa dia bilang “memisahkan”? bukan karena keinginan tapi memisahkan karena takdir. Kemudian aku berpikir, “Setega itukah Tuhan padaku, mengirimnya kemudian mengambilnya begitu saja”.

Bisakah aku menerima itu semua?, sedangkan aku sudah gila karenanya.

Siapa Yang Tahu?

Siapa Yang Tahu?

Sebuah tulisan telah ditetapkan
Baik buruk tertulis didalamnya
Untuk siapa, pada siapa?
Siapa yang tahu?

Andai saja bisa ku tulis sendiri
Ku rangkai kalimat dari perkata
Untuk kita di masa
Akan ku tulis takkan terpisah

Kami dipertemukan di alam tipudaya
Kemudian kami berharap dipertemukan di alam sebenarnya
Tidakkah begitu banyak permintaan
Mana yang akan dipilih jika hanya satu dari dua

Tak ada yang bisa menolaknya
Tak ada yang bisa menentangnya
Takdir memang demikian
Begitu yang ku tahu

Seperti apa takdir kami?
Apa yang akan terjadi?
Apapun itu, aku hanya meminta dalam do’a
Takdir, jangan pisahkan kami

Masa Depan Dibalik Tabir

 “Setiap manusia hanya bisa berencana dan merencanakan, namun pada akhir yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa”.

Kalimat diatas yang mungkin terjadi padaku saat ini, dimana aku yang sudah merencanakan dan berencana sedemikian rupa untuk masa depanku sendiri kini berubah total dimulai dari nol kembali.

Sistem kehidupan yang tidak bisa kuterka dengan logika, kadang membuat aku sendiri kelapakan kebingungan. Kata orang, “Hidup itu biarkan mengalir seperti air”, “Nikmati apa yang ada sekarang, biarlah bagaimana nanti”. Bagiku bukan demikian, “Hidup harus kita arahkan sedemikian rupa” meski pada pertengahan dan akhirnya pasti ada perubahan. Tapi kita masih punya rencana cadangan, dari B, C, D sampai Z. Karena dari rencana akan perencanaan kita yang sedemikian rupa tidaklah semuanya akan nihil hasilnya, pastilah ada yang kita raih. Kemudian, “Hidup meski kita pikirkan akan masa depan, bukan ‘biarlah nanti bagaimana’ tapi ‘nanti bagaimana’”.

Perencanaan pertama ketika masuk kuliah, aku sendiri berprinsip bahwa tujuanku adalah untuk menjadi seorang guru. Dengan konsentrasi pada pembelajaran kuliah yang tanpa keluar dalam artian KUPU-KUPU (Kuliah Pulang, Kuliah Pulang). Bahkan aku enggan untuk bekerja, karena ditakutkan akan mengganggu perkuliahan. Namun tujuan itu mulai aku rubah dengan sistem logikaku yang berbeda. Melihat situasi perekonomian keluarga yang tidak setabil, aku pun dituntut untuk bekerja. Kemudian aku mempunya prinsip, dua tahun aktif organisasi, dua tahun aktif kuliah. Dengan jangka empat tahun itu aku rencanakan sedemikian rupa, dengan pertimbangan atas konsekuensi akan akibat dan masalah yang  datang. Namun aku mendapati sebuah buku yang menyatakan, “Seorang guru yang ideal (baik) tidak lah cacat”[1], mungkin aku salah mengartikan dari kata “cacat”. Entah itu dari fisik secara luar ataupun fisik secara dalam (mental). Dalam buku tersebut tidak disebutkan demikian. Aku mulai mencari antisipasi akan hal itu, ditakutkan mengacu pada fisik luar. Aku sadar bagaimana fisiku sendiri. Selain itu peluang untuk menjadi seorang guru semakin lama semakin kecil, melihat perkembangan sistematika dari pemerintah maupun lingkungan yang ada.

Dari situlah aku mulai merubah, bahwa aku tidak terpaku pada satu tujuan bukan cita-cita [2]. Aku masih punya harapan masuk DEPAG (Departemen Agama), dengan titel nanti yang aku raih sesuai jurusan[3].  Jika tujuan itu tidak bisa aku genggam, masih ada tujuan lain yang bisa ku gapai dengan mengikuti organisasi-organisai kemahasiswaan (Ekternal Kampus) maupun LSM (Lembaga Suadaya Masyarakat), yang membuka jaringan dan pengalaman baik dari sisi ilmu maupaun kehidupan.

“Janganlah terlalu berharap akan pemberian dari orang lain, seperti kata: Tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”. Kalimat ini mulai aku renungkan, sistemkupun aku tambahkan perencanaan yang lain.

Sekarang semua tinggak perencana, dan sekarang sistem rencanaku berubah kembali atas situasi dan kondisi.

Sekarang aku berhenti dari perkuliahan maupun pekerjaanku yang dulu (mengabdi pada senior organisasi). Meskupun sebenarnya sekarangpun aku masih mengikuti jejak dari senior. Seperti yang aku bilang pada awal-awal lalu, aku ditarik dari senior yang satu ke senior yang satunya lagi.

Meskipun aku masih menjadi perintis dari sebuah cabang Perguruan Tinggi yang rncana pada tahun 2013 akan menjadi sebuah Universitas, yang masih terhitung lama bagiku, entah karena aku tak sabar ingin kuliah kembali atau memang sifatku yang tak sabaran. Dalam jangka tiga bulan tanpa perkuliahan dan kerjaanku yang sekarang hanya stenbay dikantor dengan setumpuk berkas dan data-data yang sebenarnya belum bisa beroprasi pada apa yang ditujukan. Tapi, aku melihat sistem perkembangan waktu yang berputar dan terus berputar.

Dalam jangka tiga bulan kedepan ini akan siap dioprasikan pada bulan maret nanti, aku mesti bersabar menunggu waktu itu. Karena aku orangnya gak suka menunggu, rasa itu yang meracau setiap langkahku.

Rencana dan perencanaan kali ini, dengan apa yang aku raih nanti ketika masuk jurusan[4] yang sangat jauh berbeda dari jurusan yang aku ambil dulu, tentulah akan sedikit berbeda.

Aku sendiri bukannya enggan untuk masuk sebuah perusahaan ternama ataupun pabrik, melihat sikon fisik kemungkinan kecil untuk bisa masuk. Aku rencanakan hal itu jika terjadi dengan apa yang aku dapat, aku ingin membuat sebuah yayasan ataupun lembaga atau bahkan hanya pasilitas sekedar usaha menhidupi keluarga kukelak. Sebuah pengembangan diri di desaku tempat aku tinggal, yang kebetulan belum ada les komputer maupun bahasa inggiris. Meskipun aku tidak mahir dalam komputer apalagi bahasa inggris. Tapi ini sebuah rencana masa depan dibalik tabir yang belum kita ketahui. Jika perencanaan ini gagal apa yang akan aku lakukan?, kembali pada lembaga yang sekarang aku duduki menetap menjadi staf di sini. Bagaimana selanjutnya? Aku sendiri masih pikirkan bagaimana kedepan untuk itu sendiri. Namun setidaknya aku sudah punya perencanaan, tidak hanya memikirkan sekarang. Aku lebih pikirkan bagaimana kedepan dan akan seperti apa. Mungkin pemikiran-pemikiranku terlalu jauh, melihat usiaku yang masih sembilan belas tahun jalan. Tapi itu bukan penolakan untuk aku berencana, karena setiap manusia harus mempunyai tujuan.

“Setiap langkah kita, harus kita pikirkan dengan melihat, kekuatan, keleman, kesempatan, dan tantangan. Agar hidup lebih terarah akan dibawa kemana langkah kakiku kelak, akan seperti apa aku kelat, akan bagaimana aku kelak”.

 

“Rintangan pasti datang menghadang, cobaan pasti datang menghujan, mamun yakinlah…” (Lirik Lagu Arti Kehidupan)

[1]. Buku yang dibuat oleh Dosen kampus sekaligus Ketuayayasan dan  Rektorat STAI Wasilatul Falah.
[2]. Tujuan berbeda dengan cita-cita. Cita-cita adalah tujuan akhir dari yang kita harapkan, sedangkan tujuan adalah pertengahan dari cita-cita dan perjalanan hidup yang seolah-olah akan berubah dengan melihat situasi dan kondisi pada saat itu.
[3]. PAI (Pendidikan Agama Islam) atau Keguruan.
[4]. Informatika.

Terus Maju

Kadang akupun merasa lelah dan letih dengan perjalanan hidupku. Tapi jika kutengok pundaku, terlihat senyum mereka yang menggantungkan sedikit harapan padaku, aku pun tak mampu berdiam dan mundur begitu saja. Melihat harapan mereka akupun ingin Terus Maju melangkah meskipun akan payah, lelah, letih itu menyapa dikala aku sedang menempuh langkah untuk masa depan.
Aku memang manusia lemah. Namun bukan berarti aku harus merengek menangisi apa yang aku hadapi. Jika aku terjatuh maka aku akan bangkit, Jika aku tersungkur maka aku akan bangun, jika aku terhalang rintang maka akan aku rubuhkan.
Saat aku diam meratap apa yang aku dapat tak seperti yang aku harap maka aku akan berontak.  Bakar semua ratap ini menjadi semangat api.

What is Reality?

Mungkin aku harus terima kenyataan pahit

Membekas dalam dada

Terulang beberapa kali

Yang takan pernah berhenti

 

Lagi dan Lagi

Begitu dan Terus begitu

 

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri

Apa ini Keyataan?

Kenyataan pahit yang harus aku lalui

Setiap jejak dan langkah hidupku

 

Tak mudah dipahami

Sulit dimengerti

 

Ohh…. Duhai Cinta dalam Hati

Apa kau akan selalu merasa sakit

Sakit yang sering menyapa

Kapan luka kan tiada