Cantik Sapaku

Apa kabar kau cantik?
Sekian lama aku tak berjumpa denganmu
Nampaknya kau semakin kusam
Menua tak terbelai lembut mesra

Apa kabar kau cantik?
Bolehkah aku berjumpa dengamu lagi
Meski aku tak mengucap janji setia
Akan selalu disampingmu setiap saat

Rindukah aku!
Tentu, begitu rindu
Sekian lama tak membelaimu
Tak mengkecum pipi halusmu

Kadang tebayang wajahmu yang indah
Merona, memancarkan cahaya
Hitam pekat, gores kuning emasmu selalu ku ingat
Aku rindu kepadamu oh Desaku

Iklan

Intinya Kangen

Terbentang luas samudra didepan mata, terhampar lautan dari sang mata air
Kemudian bergejolak bagai kawah gunung berapi
Waktu memutuskan kapan gejolak itu akan tumpah pada yang dia inginkan
Namun, tak ada yang tahu kapan waktu itu akan tiba pada masanya

Awan awan kata sudah menutupi putihnya awan dilangit
Gelap bukan karena sang matahari telah terbenam diupuk barat
Gelap itu akan rinduku padamu

Sang merpatipun tak bisa sampaikan pesan ini padamu
Hanya hati nurani yang menerima dan memberi pesan ini untukmu
Rindu ini begitu berat, sang sayap tak bisa terkepak

Rindu yang membuatku tak bisa merasakan hembusan angin dalam ronggaku
Merasa pada pri-pori tubuhku
Aku bagai mati tanpamu

Mati rasa akan cinta
Rindukan aku seperti aku merindukanmu
Kasih..

Antara Rindu dan Tanggung Jawab (Membabi Buta)

Bergejolak bagai bara api dimulut gunung
Tumpahan lumpur panas
Seakan membahar seluruh dunia
Mengubrak-abrik seisinya

Tanpa sebuah ujung
Tanpa sebuah daratan dingin
Kerinduan yang semakin membabi buta
Melupakan setupuk kesabaran yang aku kumpulkan

Sekejap aku bertanya pada diriku
“Kemana api itu akan berujung”
Bahkan aku sendiri tak bisa menjawabnya
Gelap, panas, hanya itu yang ada

Darah merah menjadi hitam
Saraf seperti mati terkikis emosi
Semakin habis dilahapnya

Aku ingin pulang…..
Aku ingin pulang…..

Dalam hatiku mengaung
Menggerutu pada tembok bisu
Mencabik-cabik kertas putih
Membutakan pena bermata

Terlintas dalam benak kesabaranku
Tapi ini tanggung jawabku
Aku tak bisa begitu saja meninggalkannya

Apa aku harus relakan kerinduanku terbakar
Luluh lebur, hancur berkeping-keping
Tanpa sebuah harapan
Tanpa sebuah keindahan dalam kerinduan

Menyambut satu akhir perjuangan
Merayakan kegembiraan
Bercengrawala bersama sanak keluarga
Aku tak pulang

Saat Kita Tak Bisa Bersama

Disinilah ada bintang bersayap

Melihat dengan mata hati

Insan yang sedang dilanda rindu

 

Ada hati yang tak pernah lelah

Walau tak bisa menggekapmu

 

Akupun mengerti dirimu menanti

Akan hadirnya diriku

 

Akupun berharap rindu ini

Bukan sebatas kata-kata

Yang terucap dari buah bibir manis

 

Namun kuharap itu

untuk menggantikan kita bersama

di saat aku dan engkau jauh

 

Kupastikan hati ini untukmu

Rinduku untukmu

Dan kau jua tetaplah sabar

Jangan terusik hawa nafsu

Akan sebuah rasa rindu

 

Hatiku yang kosong takkan terisi

oleh sesuatu selain cinta dirimu

 

I Miss You

Aku Yang Merindukan Mu

Hanya “I-S-E-N-G” [ Tak Galau Atau pun Apa Namanya ]

 

Kini aku merindumu dalam alunan-alunan musik bernadakan cinta

Sebuah instrumen yang ku dengar dari alat musik sederhana

Mengingatkanku akan kindahan suara merdumu disana


Indahnya lekuk alat musik itu mengingatkanku pada dirimu

Semakin aku resapi nada-nada cinta yang berkumandang

Semakin pula aku merasakan kerinduan yang begitu mendalan


Engakau jauh memang dimataku

Namun begitu erat dalam nadiku


Yah begitulah…..!!!

Semakin rindu rasanya hati ini kepadamu

Kepada engkau kekasih yang jauh disana

Pujaan Hatiku….!!!


Mungkin cahaya matahari yang terbit dari upuk timur

Telah redup dengan berjalannya sang waktu yang berputar

Namun tentunya tidak untuk hatiku yang selalu merindumu,

Menyayangimu, mengasihimu yang terbentuk dalam sanubariku


Sebuah kata pendek namun begitu bermakna

sebuah kata “Cinta” yang aku rasakan dalam darah yang mengalir di tubuhku

Bersemayam dalam jantungku.


Bahkan terkadang aku tak bisa melupakanmu di setiap napasku

Apa kau tahu ini?

Apa kau rasakan ini?

aku disini yang selalu merindukanmu


“Kapan yah, kita bisa melepaskannya.. :?:”


Sebuah pertanyaan yang selalu aku lontarkan setiap waktu

Bukanpadamu

Tapi apad sang rembulan malam

Yang selalu menemani kesendirian

Kepiliuan dalam diri yang merindumu


Kadang kau berpikir bahwa

Aku ini GILA

GILA akan dirimu

Akan Cintamu


Rindu ini begitu menjeratku kasih

Seaakan aku tak bisa melepaskannya

Ikatan hatimu yang begiiiitttuuuu… kuat 

Membuat aku tak mamp tuk meraih tali-tali yang lain


Hati ini tak bisa terikat oleh mereka yang ada dihadapanku

Rupanya aku memang tak mampu untuk melepaskanmu,

Melupakanmu, menghindarimu.


Tuhan Telah berkata lain tentang hati ini

Hati ini sudah digoreskan ukiran Namamu

Bukan dengan pena

Melainkan dengan Baja

Yang takbisa ter-robohkan oleh senjata


Inilah Kerinduanku

kerinduan yang ada dalam hatiku kepadamu.

-I LOVE YOU-

Langkah Rindu

Langkah demi langkah aku telusuri
garis jalan yang membentang tak menemukan tujuan
bagai tak berujung
entah dimana engkau berada kasih…

lelah
letih
menyerah
hampir aku rasakan

Indahnya trik sang senja
tumbuh kerinduan yang dalam teringat engkau disana
meski tak terlihat
tak terpandang keindahan bola matamu

aku datang
aku pasti datang
aku yakin
aku yakin

tunggu gekapan tanganku yang lembut
tunggu belayan mesra dari ku
tunggu pelukan hangat diriku

Langkahku masih berlanjut
Takan menyerah, letih, lelah….
karena kau selalu ada dalam diri ku
dalam kobaran api cinta dan rindu yang membara

“I M U”

Muhamad Romdoni